Ada Gudeg Yogya di Depok

Oleh: Elvy Yusanti

 

Karena tayangan video Mbah Lindu, master pembuat Gudeg yang baru-baru ini viral di media sosial, saya jadi ingin memasak menu khas Jawa Tengah ini. Mbah Lindu (96) yang namanya terkenal hingga mancanegara, sampai saat ini masih berjualan di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta. Memasak dan berjualan Gudeg sejak jaman penjajahan Jepang, Mbah Lindu yang bernama asli Setya Utomo ini menitipkan pesan yang tersirat tentang pentingnya konsistensi dan kesetiaan. Ia menunjukkan kecintaannya pada Budaya Indonesia melalui Gudeg kepada generasi saat ini.

Nama Gudeg identik dengan Yogyakarta. Makanan khas dari bahan Nangka muda yang dimasak dengan santan ini sudah menjadi ikon daerah yang juga dikenal dengan Candi Borobudurnya. Penyajian Gudeg ada dua macam, versi kering dengan Areh (santan kental dimasak dengan putih telur). Sementara Gudeg basah dilengkapi dengan Areh encer. Gudeg yang rasanya manis dan berwarna kecoklatan ini biasanya disajikan dengan Telur Pindang, Tempe atau Tahu Bacem, Krecek dan Opor Ayam. Lauknya sangat lengkap, jadi jika ada item yang tidak kita suka masih bisa memilih alternatif pelengkap lainnya.

Warna kecoklatan Gudeg berasal dari Daun Jati, memasaknya pun membutuhkan waktu cukup lama, 4 hingga 5 jam untuk menghasilkan tektur Nangka muda yang empuk dan bumbunya meresap. Jika
ingin memasak Gudeg seperti yang dijual di Yogya agak sulit karena tidak mudah untuk mendapatkan Daun Jati. Ada yang menggantinya dengan Daun Jambu meskipun warnanya tidak seperti Gudeg asli. Alternatif lainnya, menggunakan kulit bawang merah dan teh celup sebagai pengganti. Sama halnya dengan menggunakan Daun Jambu, warna yang didapat tidak sempurna. It’s okay, nggak masalah, yang penting rasanya mirip Gudeg, hehehe. Saya baru pertamakali memasak Gudeg untuk menu berbuka, Senin (4/5). Sekaligus mengenalkan kepada anak-anak, makanan spesial Indonesia yang lezatnya tiada tara.

Bumbu yang dihaluskan:
800 gram Nangka muda, 4 telur rebus, santan dari 1 butir kelapa, 10 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 8 butir kemiri, 1 sendok makan Ketumbar, Daun Salam, Sereh, Lengkuas, Daun Jeruk, Gula Merah, Garam sesuai selera, kulit bawang merah dan 2 buah teh celup.

Cara Membuat:
Bumbu dihaluskan. Nangka dipotong kecil-kecil, cuci bersih, rebus dengan kulit bawang merah dan teh celup sampai setengah empuk. Proses merebus ini sekaligus untuk menghilangkan getah pada Nangka muda. Kemudian buang air, bersihkan dari kulit bawang dan teh celup.

Kemudian campur bumbu halus, Daun Salam, Lengkuas, Daun Jeruk dan Sereh masukkan ke panci berisi Nangka Muda, masukkan santan, lalu rebus hingga bumbu meresap. Saya merebus sekitar 2 jam, atau air menyusut, lalu masukkan telur rebus, masak kembali sekitar 1 jam atau sampai santan mengering. Sajikan Gudeg dengan Krecek dan Tahu / Tempe Bacem.

Indonesia sangat kaya dengan makanan tradisionalnya. Bahkan salah satu makanan dari Padang, Sumatera Barat yakni Rendang dinobatkan sebagai makanan paling enak di dunia versi CNN. Memasak menu tradisional dan menyajikannya di meja makan yang terpenting bukan soal rasa dan tampilannya. Tetapi lebih pada usaha menyelami resep warisan leluhur. Ketika Gudeg Yogya tersaji di meja makan keluarga saya di Depok, Jawa Barat, bukan tidak mungkin Soto Betawi tersaji di meja makan keluarga di Padang, Sumatera Barat. Atau, Bubur Manado menjadi menu kesukaan keluarga lainnya di Surabaya, Jawa Timur. Mengutip ungkapan presenter kondang Daniel Manangka, Damn, I Love Indonesia!

Elvy Yusanti
Elvy Yusanti
elvy@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment