Belajar Batik dari Sanubari

Indonesia memang sangat identik dengan batik.. Di sejumlah wilayah baik pesisir maupun dipegunungan terutama di kepulauan pulau Jawa menyimpan sejumlah keistimewaan tentang batik sesuai karakter wilayah maupun warga asalnya.. Sejumlah jenis batik dari sejumlah wilayah nusantara sebagian besar juga sudah diangkat dalam bentuk tulisan di media cetak hingga elektronik. Jadi seyogyanya batik sudah mendarah daging bagi bangsa ini. Tidak heran batik menjadi salah satu heritage dan warisan leluhur Indonesia yang masuk dalam penghargaan UNICEF.

 

foto : google

Tapi ada cerita lain dari wilayah Trusmi, Cirebon. Kampung batik Trusmi sejak abad 14 sudah memiliki aksen tersendiri dalam artistik batik. berciri batik pesisir sesuai demografi wilayahnya, batik trusmi memiliki motif khas diantaranya mega mendung dan keratonan dengan warna-warna kontras atau menyolok dan glossy.. Tapi yang membuatku sangat terkesan bukan hanya dari batiknya yang indah dengan kualitasnya yang handal tapi lebih dalam dari penuturan seorang sesepuh pengrajin batik Cirebonan, yang merupakan generasi ke-8 dalam mempopulerkan batik Trusmi kepada masyarakat luas..

 

Foto : Google

Adalah Katura, kakek 3 cucu ini awalnya mengenal batik sejak zaman kakek buyutnya masih hidup. Kini batik buatannya menjadi kebanggaan Indonesia dimata dunia terutama bagi wisatawan Jepang yang jadi langganannya. Setidaknya setiap bulan Katura harus memenuhi 50 potong kain batik tulis trusmi untuk konsumsi warga Jepang yang dinilai Katura sangat mencintai dan lebih kenal batik ketimbang kita yang konon sudah mendarah daging dengan batik.

Menurut Katura, sangat sulit memppopulerkan batik di negeri sendiri. Kalaupun ada anjuran untuk menggunakan batik disetiap kantor swasta maupun bagi PNS pada hari jumat atau akhir pekan, nyatanya itu baru dalam tahap perkenalan saja.. Sementara batik notabene sudah dikenal dari ratusan tahun yang lalu… Disebut baru perkenalan, karena batik yang dipakai oleh seluruh karyawan rata-rata adalah tekstil batik printing atau pakaian jadi yang dibuat dari kain printing atau cap dengan motif batik-batik. Kalaupun mau yang lebih tinggi adalah batik gabungan cap-tulis.

Foto : Google

Hanya orang-orang mampu atau pejabat maupun petinggi dan pengusaha saja yang bisa menggunakan batik tulis. Kalaupun mereka pakai batik tulis juga bukan mustahil merekapun belum tentu tahu apa arti, makna dan falsafah goresan malam dalam helai-helai sutera atau kain katun halus tersebut. Sementara orang Jepang dan Eropa datang jauh-jauh untuk mengenal batik lebih dari sekedar selembar kain ataupun sandang. Mereka betul-betul belajar membuatnya bahkan khusus membawa kain sutra halus untuk dibatik sebagai bahan kimono pakaian kebesaran mereka.. Bukan untuk fashion atau trend tapi karena mereka tahu falsafah dibalik goresan malam diatas kain tersebut….. Dan yang terpenting mereka bangga saat menggunakannya dan ketika ditanya makna torehan batiknya mereka dengan sungguh-sungguh bisa menjelaskannya.. Itulah tanda bahwa mereka mengerti tentang keutamaan batik yang sesungguhnya dan bukan sekedar pamer harganya..

Menurut Katura sebagai anak buyut kita seharusnya lebih tahu tentang leluhur kita berikut kekayaannya baik yang tersirat maupun tersurat.. Kita bisa saja memakai batik printing asalkan kita mampu memaknainya.. Sebaliknya memakai batik tulis tanpa mengerti apa falsafah motifnya juga percuma saja.. Sebagai satu anak bangsa, saya merasa miris mendengarkan penjelasan pak Kataru. Saya bisa mengerti, batik buat orang jepang, katakanlah sebuah batik tulis halus yang minimal seharga sejuta rupiah keatas, merupakan angka kecil, tapi bagi kita yang memiliki rata-rata income pas-pasan tentu berpikir panjang untuk membeli kain seharga itu apalagi hanya untuk sebuah baju kerja harian..

Tapi seandainya kita lebih kenal dan lebih sayang terhadap produk nenek moyang kita tentunya memakai batik akan lebih menjadi kebanggaan bagi diri sendiri maupun bangsa ini. Ya……. sebuah fenomena akan ketertinggalan kita terhadap warisan leluhur disekitar kita. Apalagi dipasaran batik terpaksa harus “ngalah” karena kebanyakan orang lebih senang memilih fashion dengan nama dan merk tertentu alias branded tertentu dan lebih bangga mngenakannya.. Ini juga menjadi agenda kita sebagai cara untuk mempopulerkan batik dimata bangsa kita sendiri… Bangsa yang diberi amanah kekayaan luar biasa dari historis leluhur yang panjang. PR kita untuk terus mempopulerkan batik terutama untuk generasi mendatang atau generasi milenial yang tentunya butuh cara-cara yang sesuai dengan era dan zamannya mereka.

Jakarta, 19072020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment