Dawet Ireng Minuman Khas Kutoarjo

Penulis : Dewi Suspaningrum

Siang yang terik menyengat di saat matahari disepenggalan kepala, akhirnya terpuaskan dengan semangkok es dawet ireng racikan Pak Wagiman. Minuman sederhana ini kembali membangkitkan kisah nostalgia saya, karena sejak kecil saya selalu dibawa orang tua saya mampir ke tempat ini, jika habis berpergian dari manapun baik Semarang, Solo, Jogjakarta, Magelang ataupun Kutoarjo. Bahkan tak jarang kami sekeluarga datang khusus untuk menikmati es dawet ireng ini.

Jadi, tak pelak, ini sudah menjadi sebuah kebiasaan atau semacam ritual yang selalu dilakukan bersama keluarga bila bepergian kemanapun, atau kalau memang ada kumpul keluarga. Maka berombongan kita mampir ke sini atau pesan langsung ke Pak Wagiman untuk diantar ke rumah orang tuaku.

Konon kata Papa, es dawet ireng Pak Wagiman ini sudah tersohor sejak tahun 60-an. Pak Wagiman-lah orang pertama yang merintis adanya penjualan dawet ireng yang kini menjadi ikon minuman khas asli Kutoarjo. Disebut “dawet ireng” atau kalau dalam bahasa Indonesia biasa dikenal dengan sebutan cendol hitam. “Ireng” yang berarti hitam disebabkan karena dawet ireng selain berbahan dasar tepung tapioka pewarna hitamnya dibuat dari hasil pembakaran merang (sisa tanaman kulit padi yang dibakar hingga keluar cairan pewarna hitam yang kemudian digunakan untuk pewarna tepung bakal bahan dawet). Unik sekali kan…

Soal rasa, jangan ditanya lagi alias jempol dua. Apalagi kalau kita minum es dawet ireng ini bersama keluarga dan orang-orang terkasih kita… Klop deh, kesederhanaan yang membawa kebahagiaan. Terbukti kan… bahwa bahagia itu sederhana saja. Berkumpul bersama orang-orang tercinta, saudara ataupun teman adalah anugerah yang tak terhingga.

Balik ke dawet ireng. Harga semangkok dawet ireng di Kutoarjo ini rata-rata sama, hanya Rp. 5000,- bahkan mau nambah biasanya tidak di cash lagi alias gratis. Tapi nambahnya jangan keterusan ya… cukup sekali saja. Kasihan keluarga pak Wagiman nanti nggak bisa dapat untung.

Minuman yang mampu menyurutkan dahaga ini memang menjadi minuman favorit masyarakat Kutoarjo bahkan para pelancong yang lewat jalan raya Kutoarjo-Prembun. Tidak heran di sepanjang jalan perbatasan ini banyak ditemui pedagang es dawet ireng.

Posisi warung Pak Wagiman berada tepat diujung jembatan butuh perbatasan wilayah Kutoarjo-Prembun. Rumah sekaligus warungnya selalu ramai sejak pagi apalagi disiang hari. Pak Wagiman biasa membuka warungnya sekitar Pukul 09:00 pagi hingga jam 20:00 malam atau sehabisnya dagangannya saja. Dia tidak pernah mematok harus menghabiskan berapa kilogram tepung tapioka perharinya. “Sesuai kemampuannya kami saja”, begitu sahutnya ketika ditanya setiap hari membuat berapa banyak. Halaman rumahnya yang luas menjadi lahan parkir kendaraan para pelanggan yang terus berdatangan, semua tertib antri, sabar menunggu antrian bila banyak pembeli. Biasanya dalam sehari rata-rata Warung Pak Wagiman biasa menjual lebih dari 100 mangkok, yang mengelola-pun kini sudah generasi ketiga alias cucu-cucunya bersama keluarga besarnya. Masa-masa sepi pandemi corona memang sempat membuatnya tidak berdagang selama hampir 3 bulan. Selama itu Pak Wagiman hanya bertahan dengan pesanan khusus saja. Namun sejak Juli 2020 lalu Pak Wagiman kembali berjualan karena banyak langganannya yang tetap datang meski musim paceklik Corona.

Kini yang datang tetap wajib mematuhi protokol kesehatan. Boleh minum ditempat tapi duduk tetap berjarak. Bahkan agar tidak berkumpul banyak orang Pak Wagiman sudah menyediakan paket-paket dawet ireng yang bisa dibeli untuk dibawa pulang. Sepaket berisi 5 bungkus dengan harga 25 ribu rupiah.

Nah buat anda yang kebetulan lewat wilayah Kutoarjo, silahkan mampir agar tidak penasaran dengan kuliner disini. Jadi jika di Banjarnegara anda akan disuguhkan dawet hijau maka di Kutoarjo anda akan menemukan dawet ireng… Rasakan sensasinya…. !!!

Selamat berburu kuliner….

Butuh, Kutoarjo, Dee, 08082020

 

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment