Gedung Birao Tegal, Saksi Sejarah Pembangunan Kereta Api Indonesia

Oleh: Elvy Yusanti

Keberadaan sejumlah bangunan bersejarah di Tanah Air tidak terlepas dari sejarah pembangunan kereta api, satu satunya adalah Gedung Birao yang dibangun perusahaan Hindia Belanda de Semarang Cheriboon Stroomtram Maatschappij, NV (SCS) di Tegal, Jawa Tengah.

Bangunan kuno dengan desain klasik ini dibuat arsitek Henry Maclaine Pont pada tahun 1884-1971 yang peruntukannya sebagai Kantor SCS. Pada tahun 1897-1914, perusahaan ini membangun jalur kereta api dengan panjang 373 km yang menghubungkan Semarang dengan Cirebon hingga ke Kadhipaten di ujung barat. Jalur ini juga melewati kota-kota di sepanjang pantai Utara Jawa ke arah barat, seperti Kendal, Pekalongan, Tegal, dll. Dahulu stasiun dari jalur ini berada di Jalan Poncol yang telah diambil alih PT KAI dan menjadi Stasiun Poncol. (Sumber: Wikipedia).

Mistis

Gedung Birou yang saat ini dikelola PT KAI dan sudah ditetapkan sebagai situs budaya  letaknya sekitar 150 meter dari Stasiun Kereta Api Tegal. Akhir Agustus 2019 lalu saya berkesempatan masuk ke Gedung Birou bersama rombongan Direktur Utama PT Kereta Api Persero Edi Sukmoro yang melakukan kunjungan kerja ke Bandung, Yogyakarta, Solo dan Semarang. Bangunannya tampak kokoh meski telah berusia 100 tahun. Sekilas arsitekturnya mirip dengan Gedung Lawang Sewu di Semarang, ornamen di dalam gedung dan detail pembuatannya berkelas.

Luas bangunan Gedung Birao yang memiliki empat lantai ini ± 7.106 meter, berdiri diatas tanah seluas ± 11.000 meter dengan panjang bangunan ± 120 meter, lebar ± 42 meter dan tinggi ± 36 meter. Di lantai dua gedung ini terdapat “lift” barang yang tampak unik. Menurut Kepala Stasiun Tegal, Tarmudi, bangunan ini memiliki cerita mistis berdasarkan pengalaman orang-orang yang pernah bermalam disana. “Suatu hari seorang anggota pimpinan KAI pernah mencoba bermalam di gedung ini, tapi beberapa jam kemudian minta pindah ke hotel. Beliau merasa ditarik-tarik oleh makhluk tak kelihatan,” cerita Tarmudi sebagaimana ditulis J. Osdar dalam bukunya Melintasi Seribu Stasiun Kereta.

Saksi Sejarah Pembangunan Kereta Api Indonesia

Gedung dengan arsitektur bergaya kolonial ini memiliki halaman luas dengan cat warna putih. Kemiripan bangunan ini dengan Lawang Sewu adalah keduanya memiliki banyak pintu dan jendela berukuran besar. Sebagaimana bangunan megah lainnya peninggalan Belanda, Gedung Birao memiliki langit-langit yang tinggi sehingga tampak megah. Desainnya yang dipadu dengan kayu berkualitas tinggi tampak mentereng. Meski usianya ratusan tahun tidak nampak adanya kerusakan. Keberadaan bangunan-bangunan masa lalu ini diharapkan bisa memberikan pelajaran penting bagi masyarakat terkait sejarah Indonesia khususnya pembangunan perkereta apiannya.

 

Elvy Yusanti
Elvy Yusanti
elvy@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment