Jamu, Obat Murah Pencegah Corona

Penulis : Dewi Suspaningrum

 

Tak kalah dengan Ayurveda dari India atau Zhongyi dari China, Indonesia juga memiliki ragam obat-obatan tradisional yang biasa disebut jamu. Tradisi minum jamu diperkirakan sudah ada sejak tahun 1300 pada masa Kerajaan Mataram.

Dalam keseharian, jamu lebih banyak diolah oleh perempuan yang biasa kita panggil “Mbok Jamu”, karena pria pada saat ini lebih berperan untuk mencari tumbuhan herbal sebagai bahan dasar pembuatan jamu. Walaupun jamu dapat juga digunakan sebagai pengobatan, tetapi tradisi ini lebih kepada menjaga kesehatan, mencegah penyakit dengan menerapkan kebiasaan sehat. Karena ragamnya tanaman herbal yang dapat ditemukan di Indonesia, setiap daerah mempunyai jamu khasnya masing-masing.

Jamu menjaga tubuh peminumnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari kulit terluar sampai organ terdalam. Beberapa jenis yang populer di masyarakat adalah jamu yang mengatasi masalah kelelakian dan kewanitaan. Selain itu, jamu yang menghangatkan tubuh, memperkuat sendi-sendi dan menaikkan stamina maupun vitalitas juga cukup diminati. Terutama untuk menjaga ketahanan tubuh saat bekerja. Untuk penampilan, beberapa jenis jamu dapat menjaga kesehatan rambut, kelembutan kulit, serta mengurangi bau badan, juga biar singset alias langsing.

Bahan-bahan jamu yang paling sering dipakai adalah biasanya bumbu dapur seperti : jahe, kencur, kunyit, lengkuas, temulawak, daun secang dan kayu manis, pala serta rempah-rempah lainnya. Buah asam, jeruk nipis, jeruk kesturi dan gula jawa atau gula batu juga dipakai untuk menambahkan rasa segar atau rasa manis pada jamu yang cenderung pahit. Meskipun begitu, ada jenis jamu yang dibiarkan pahit, karena menurut kepercayaan, rasa pahitnya  justru merupakan bagian penting dari kemanjuran jamu tersebut.

Mengolah bahan-bahan untuk dijadikan jamu tidak terlalu rumit. Kebanyakan dari air jamu adalah sari hasil perasan tumbuhan herbal. Ada juga beberapa bahan yang ditumbuk halus dan dicampur dengan air, atau direbus sampai saripati yang mengandung khasiat bercampur dengan air rebusan. Yang perlu diperhatikan adalah takaran tiap-tiap bahan, suhu dan lama waktu merebus bahan. Jika tidak diperhatikan dengan baik, bahan-bahan akan kehilangan khasiatnya, atau bahkan dapat berubah menjadi membahayakan tubuh.

Kali pertama ilmu kedokteran modern masuk ke Indonesia, tradisi minum jamu mengalami penurunan. Selain masalah standar kebersihan pengolahan jamu, khasiat dari jamu pun turut dipertanyakan. Pada masa penjajahan Jepang di tahun 1944, jamu kembali populer dengan dibentuknya komite jamu Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi, jamu pun telah banyak dikemas dalam bentuk pil, tablet, atau juga bubuk instan yang mudah diseduh di rumah layaknya minuman ringan.

Mungkin imaji yang masih melekat di masyarakat terutama masyarakat Jawa ketika mendengar jamu, adalah seorang wanita ayu yang sedang memanggul bakul berisi botol-botol kaca di punggungnya, diikat dengan selendang. Walaupun begitu, tradisi jamu gendong yang masih asli kini  mulai langka.

Sama seperti kebanyakan tradisi Indonesia lainnya, resep jamu gendong tidak pernah dibukukan dan diajarkan secara turun temurun dari  generasi ke generasi muda. Namun saat ini, makin sedikit anak muda yang ingin belajar membuat jamu. Sosok wanita berkebaya sambil menggendong bakul jamu-pun makin lama makin jarang ditemui. Berganti dengan tukang jamu yang didorong, atau naik sepeda ontel maupun berkeliling naik motor. Bahkan kini jamu bukan hanya dijajakan door to door alias dari rumah ke rumah saja tapi sudah naik kelas hingga café dan resto juga restaurant hotel berbintang.

Kini di era pandemic corona, jamu-pun berkibar lagi terutama jamu empon-empon sebagai booster imun tubuh agar tetap fit dan tidak terkena virus corona yang menakutkan banyak orang di banyak Negara. Empon-Empon adalah jamu yang mudah dibuat sendiri serta tidak perlu mengeluarkan biaya mahal seperti halnya obat-obatan kimia. Kini Mbok Jamu-pun setiap hari mulai ditunggu kedatangannya pada pagi hingga sore hari demi obat untuk mencegah terkena corona. Dengan harga Rp. 3000,- /gelas empon-empon kini menjadi minuman wajib setiap hari untuk menjaga stamina dan mencegah agar tidak terpapar virus covid-19.

Jakarta, Dee, 04102020

Tags:
,
Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment