Kampung Kawa, Ikon Baru  Pariwisata di Flores, NTT

Oleh: Primus Dorimulu

Terletak di lereng Gunung Amegelu bagian selatan, Kampung Kawa, Desa Labolewa, Kecamatan Aesesa, menjadi spot foto yang sangat strategis. Dari kampung yang dibangun sebelum Portugis masuk Flores abad ke-17 itu, pelancong akan mendapatkan pemandangan menawan saat melemparkan pandangan ke arah timur, selatan, hingga ke barat.

Memandang ke arah timur, Gunung Toto dan Wuse yang tampak membiru. Juga dataran Madawitu yang subur. Tepat di depan mata pelancong ada Gunung Manungae. Di Lembah Manungae dan Amegelu bakal dibangun salah satu waduk terbesar di NTT dengan luas 410 hektare.

Ke arah barat ada Gunung Ebulobo–dengan ketinggian 2.124 meter dari permukaan laut–yang acap berasap dan Gunung Inerie yang meruncing indah di ketinggian 2.245 meter dari permukaan laut. Di bagian paling barat, berjajar pegunungan nan kokoh. Para turis acap mengabadikan suasana sunset, saat matahari tenggelam di sela-sela pegunungan. Seiring dengan redupnya matahari, suhu udara di Kampung Kawa perlahan menurun hingga di bawah 23 derajat celsius.

Asyiknya Hiking
Kampung Kawa dan jalan menuju kampung adat ini dikitari hamparan padang rumput, diselingi pohon perdu. Kondisi ini memberikan keleluasaan kepada pelancong untuk memandang jauh ke arah selatan, timur, dan barat Gunung Amegelu.

Ada jalan raya sepanjang 6,7 km yang bisa dilewati mobil hingga ke Kampung Kawa. Namun, wisman lebih senang hiking dan trekking. Mereka berjalan kaki, menanjak, dari jalan utama, Boamaso, ke Kawa lewat jalur pejalan kaki sambil melihat panorama padang sabana, serta ternak sapi dan kuda yang sedang merumput. Waktu tempuh sekitar satu setengah hingga dua jam untuk berjalan santai.

Sebelum mencapai Kampung Kawa, pejalan kaki melewati dua dataran tinggi, yakni Lambo dan Malaledu. Dua dataran menjadi spot foto yang menarik bagi wisatawan. Dengan suhu udara 20-29 derajat celsius dan angin sepoi-sepoi sepanjang tahun, Kampung Kawa cukup sejuk meski ketinggian dari permukaan laut hanya 600 meter. Puncak Amegelu 1.373 meter dari permukaan laut.

Kampung Kawa mudah dijangkau wisatawan yang melintas di jalur utama Trans-Flores bagian tengah-selatan. Ketika sampai di pertigaan Aegela, pelancong yang datang dari arah timur sudah bisa melihat Kawa dari kejauhan. Wisatawan yang datang dari arah barat bisa melihat Kawa dari kejauhan sejak Kampung Raja, Boawae.

Kawa menyimpan kisah heroik masa lalu. Di kampung ini, Nipado, pemimpin Perang Watuapi bersembunyi dari pengejaran Belanda. Perang Watuapi 1915-1916 menginspirasi pemberontakan melawan Belanda di seluruh wilayah Flores.

Dari tempat persembunyian, Nipado terus mengobarkan semangat perang. Meski disebut Perang Watuapi, perlawanan terhadap Belanda dilakukan oleh seluruh etnis Toto, baik yang berada di utara, timur, selatan, maupun di tengah. Di Toto bagian tengah dan selatan, ada Kepa Biu, di Toto bagian timur ada Deru Gore, dan di Toto bagian utara ada Daca Dhosa, kepala Kampung Watuapi.

Watuapi menjadi medan pertempuran paling sengit dan berdarah. Pasukan bersenjata api Belanda dilawan oleh pasukan berkuda berani mati. Padang terbuka dan kebiasaan berburu melahirkan pria-pria terampil menunggang kuda bersenjatakan tombak. Di Kawa, kata Ignas Sengsara, Nipado tidak tinggal di rumah mertuanya, melainkan di gua agar terhindari dari pemantauan mata-mata Belanda. Meski demikian, Kawa tetap dianggap tidak aman. Nipado pun selalu berpindah-pindah.

Hal menarik lain dari Kawa adalah “batu gong”, batu menyerupai gong yang berbunyi nyaring saat dipukul. Ada juga bekas tapak kaki manusia raksasa yang oleh orang Kawa disebut jinga beli.

Di mata Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, Kawa mempunya keunggulan. Selain otentik, unik, juga memiliki lanskap dan pemandangan yang indah. Ada Amegelu di belakangnya, gunung yang menyimpan beberapa satwa langka. Pemda Nagekeo sedang menyusun sebuah master plan pariwisata Nagekeo agar wisatawan dapat menikmati alam dan budaya setempat dengan aman dan nyaman.

Jalan raya keliling gunung Amegelu akan dibangun agar wisatawan dapat memilih jenis transportasi yang ramah lingkungan. Masyarakat akan menyediakan kuda dan sepeda. Pelancong diberikan alternatif: berkuda, bersepeda, joging, atau sekadar berjalan kaki. Alam yang berbukit dan pada sabana menjadi lokasi yang cocok untuk camping.

“Tantangan kami saat ini adalah kesiapan SDM dan infrstruktur, mulai dari air, jalan, listrik, hingga jaringan telepon,” papar Don Bosco. Saat ini, pemda sedang merampungkan rencana induk sistem penyediaan air minum (RISPAM), pendataan sumber air, mulai dari debit, elevasi, dan jarak dari permukiman.

 

Primus/tie/kenariguesthouse

 

Bagaimana menurut Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment