Karakter Islam Dalam Bangunan

Penulis : Dewi Suspaningrum

Menyambut tahun baru Islam, 1 Muharam,  yang jatuh tepat tanggal 20 Agustus 2020, suasananya terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena kondisi pandemic corona. Indonesia yang memiliki warga dengan mayoritas pemeluk agama Islam biasanya ramai menyambut tahun baru Islam, mulai dari pawai obor saat malam tahun baru dengan pekikan” Allahu Akbar diiringi deru beduq dari masjid-masjid mulai dari kota besar hingga pelosok negeri.

Sejak awal abad 14 Islam sudah ditengarai mengakar dibumi nusantara. Ribuan masjid yang banyak berdiri menjadi simbol nusantara sangat identik dengan keberadaan Islam khususnya di Asia. Masjid bukan sekedar bangunan untuk penghargaan bagi agama Islam tapi lebih luas karena dalam setiap bangunan masjid juga menyimpan kharakter pengajaran tentang hidup yang patut kita telaah lebih dalam.

Salah satu masjid kuno yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi satu cagar alam yang dilindungi adalah masjid merah Panjunan, Cirebon, Jawa barat. Disebut masjid merah karena bangunan masjid ini memang berdiri dari susunan bata merah, karena konon Panjunan adalah satu daerah penghasil gerabah dimasa itu. Sementara nama asli masjid merah adalah Al-Atyah yang berarti “Yang Dikasihi”.

Didirikan oleh salah satu putra sultan Bagdad pada tahun 1480 yakni Syarif Abdurrahman bangunan masjid banyak mengakomodir kondisi dan karakter masyarakat pada waktu itu. Contohnya seperti bentuk tajug atau limasan yang menjadi cungkup atap masjid.

Dengan luas bangunan sekitar 400 meter persegi masjid merah menyimpan keunikan lain yaitu ornamen piring-piring porselen kuno yang ditempelkan disleuruh dinding masjid hingga pagar masjid. Jumlahnya ratusan piring yang didatangkan dari China, Eropa dan jazirah Arab, juga Syiria.

Dari ornamen ini terbukti dizaman itu sudah terjalin hubungan mendalam yang akrab antar bangsa. Keberadaan masjid merah juga membuktikan bahwa nusantara memang sangat terbuka bagi pendatang dan tuntunan inipun menjadi satu kharakter ajaran dalam Islam.

Selanjutnya di Batavia atau sering disebut Betawi juga menyisakan sejarah Islam yang dalam. Bukti kejayaan Islam di Batavia bisa ditilik dari berdirinya masjid Si Pitung atau masjid Al-Alam.
Masjid Al-Alam yang dibangun di wilayah diwilayah Marunda, Cilincing, Jakarta Utara menjadi saksi masuknya kompeni Belanda yang kemudian menguasai Batavia.

Lebih tersohor sebagai masjid si Pitung, masjid Al-Alam ini memang menjadi tempat sekaligus rumah dan persembunyian si Pitung saat dikejar-kejar penjajah kompeni. Itu sebabnya masjid ini bukan hanya unik tapi juga memiliki sejarah yang dramatis.

Konon masjid Al-Alam dibangun oleh wali songo, jadi bentuk masjid Si Pitung mirip bangunan masjid Demak. Atapnya yang berbentuk limasan membuktikan masjid ini adalah hasil kompromi dengan bangunan Hindu yang menjadi kepercayaan mayoritas pada masa itu.

 

Masjid lain yang bisa dibandingkan dan memiliki nilai sejarah adalah masjid Bingkudu yang berdiri di wilayah jorong Bingkudu Kanagarian Candung, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Masjid Bingkudu beratap Ijuk dan terdiri dari 3 strata serta berdinding kayu dan papan. Memiliki ukiran yang indah disetiap dindingnya dan memiliki 44 jendela sebagai sarana sirkulasi udara. Letaknya yang berada di kaki gunung menambah keasrian masjid yang dibangun pada abad 16 tersebut.

Masyarakat setempat sangat menjaga kelestarian masjid ini. Dengan memegang teguh tuntunan adat yaitu “Basandi Syara, Syara basandi Kitabullah”. Dimana masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi lebih luas menjadi tempat berkumpul warga dalam membahas segala urusan ataupun permasalahan yang dihadapi, guna mencapai kata mufakat.

Jadi tiga masjid yang dibahas diatas hanyalah segelintir dari ribuan masjid yang bisa ditemukan di nusantara. Setiap bangunan masjid tua di nusantara punya kisah dan memiliki karakter bangunan sebagai patokan atau pedoman bagi umatnya untuk landasan dalam bersikap dan berbuat amalan sesuai tuntunan hidup dalam Al-quran.

Selamat Tahun baru Islam 1442 Hijriah.

Jakarta, Dee, 20082020

End-

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
1 Comment
  • Avatar
    benny n joewono
    Posted at 05:29h, 20 August Reply

    Disebut masjid merah karena bangunan masjid ini memang berdiri dari susunan bata merah, karena konon Panjunan adalah satu daerah penghasil gerabah dimasa itu. Sementara nama asli masjid merah adalah Al-Atyah yang berarti “Yang Dikasihi”.

Post A Comment