KEBAYA DI ERA KOLONIALISME

Penulis: Rini Kusumawati, Pegiat Budaya

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana kebaya dideskripsikan di dalam catatan perjalanan yang ditulis pada era 1800-an hingga awal 1900-an[i]. Mengapa kebaya? Seperti yang kita tahu, kebaya sedang menjadi topik yang hangat dan seksi karena sedang menjalani proses untuk dicatatkan sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Saya ingin memahami bagaimana kebaya dipakai dan dimaknai pada era tahun 1800-an hingga awal 1900-an melalui tiga buku seperti yang tercantum di bawah ini:

Kita semua pasti sudah tahu siapa Raffles. Pada tahun 1817 Raffles menulis buku The History of Java yang berkisah tentang keadaan penduduk, adat istiadat, situasi geografis, sistem pertanian, perdagangan, bahasa dan agama di Pulau Jawa (https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/15/150027679/isi-buku-the-history-of-Java-karangan-raffles?page=all).

Saat Raffles mulai berkuasa di wilayah Hindia Belanda, sepertinya masih berlaku aturan VOC tentang pembagian cara berpakaian berdasarkan etnisitas. Pakaian model Eropa hanya boleh dipakai oleh orang Eropa. Sedangkan pakaian lokal hanya boleh dipakai oleh penduduk asli. Demikian juga dengan etnis lainnya yang berada di wilayah Hindia Belanda, mereka tidak diperkenankan untuk mengenakan pakaian yg berasal dari etnis lain (https://www.republika.id/posts/13825/pakaian-dan-kontrol-pemerintah-di-zaman-kolonial).

Di dalam bukunya, Raffles mendeskripsikan tentang pakaian yang dikenakan oleh penduduk asli. Meskipun dia tidak menyebutnya sebagai “kebaya”, disebutkan bahwa penduduk asli mengenakan semacam jaket[iv] sebagai atasan yang disebut dengan  kalámbi. Kalámbi yang dikenakan oleh perempuan adalah “… a loose gown reaching to the knees, with long sleeves buttoning at the wrist. This gown is almost invariably blue, never being of any variegated pattern…” (Raffles, 1830, loc. 2659).

Kalámbi dipakai oleh laki-laki dan perempuan, yang membedakan antara keduanya adalah panjang lengan dan panjang badan. Panjang lengan kalámbi untuk laki-laki  biasanya sesiku, sedangkan perempuan sepergelangan tangan. Kalámbi untuk perempuan panjangnya  selutut, sementara  untuk laki-laki lebih pendek. Dalam buku tersebut Raffles juga menjelaskan dengan rinci apa saja yang dipakai oleh para perempuan penduduk asli sebelum mereka mengenakan kalámbi. Kain (batik untuk di Jawa) dikenakan dari pinggang ke bawah hingga mata kaki. Bagian pinggang dikencangkan dengan udát. Kémban dikenakan  menutupi dada hingga pinggang. Baru kemudian mereka memakai kalámbi yang panjangnya hingga ke lutut. Kalambi dikenakan oleh perempuan dari kalangan ningrat maupun   dari kalangan biasa. Bahan pembuat kalambi-lah yang membedakan status sosial.  

Buku kedua dalam daftar saya yang menyebut tentang kebaya adalah buku yang ditulis oleh William Basil Worsfold yang merupakan sejarawan berkebangsaan Inggris. Buku A visit to Java with an Account of the Founding Singapore merupakan catatan perjalanannya selama di Jawa dan Singapura. Dalam buku tersebut dia menjelaskan tentang pakaian yang dikenakan oleh penduduk asli:

“Both men and women alike wear the sarong, a long decorated cloth wound round the lower limbs and fastened at the waist; over this the former wear a badjoe, or short open jacket, and the later a kabaia, or cloak, closed a the waist by a silver pin (peniti) and reaching down almost to the bottom of the sarong” (Worsfold, 1893, loc 559).

Jika dalam buku Raffles, apa yang dideskripsikan sebagai kebaya disebut dengan kalámbi untuk menyebut pakaian bagian atas yang dikenakan baik oleh laki-laki dan perempuan,Worsfold menyebutnya sebagai “badjoe” untuk pakaian laki-laki dan “kabaia” untuk pakaian perempuan. Bentuknya masih sama, semacam mantel panjang dengan bukaan depan yang dikancingkan dengan  peniti. Panjang kabaia di dalam teks ini disebutkan hampir menyentuh ujung bawah kain. Kebaya panjang seperti ini sepertinya adalah kebaya yang lazim dikenakan oleh perempuan penduduk asli (foto di bawah).

Karena di bagian lain bukunya, dia menyebutkan seperti ini:

“… ladies dressed in the beautiful native garment (the sarong) and the lace-trimmed white jacket (the kabaia), promenading with the children.” (loc 437).

Para perempuan yang dimaksud adalah para tamu Hotel der Nederlanden di Batavia, tempat dia menginap. Para perempuan tersebut sedang berjalan-jalan dengan anak-anak mereka dan berkebaya (kemungkinan berwarna putih) yang pinggirannya dihias dengan renda. Kebaya model ini kebaya yang lazim dikenakan oleh para perempuan Eropa pada masa tersebut, seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

Pada era tersebut, tata cara berpakaian orang-orang Eropa dan Indo yang tinggal di Batavia mulai mengadopsi pakaian penduduk asli. Tentu saja kebaya mereka berbeda dengan yang digunakan oleh penduduk asli,  paling tidak dari pilihan warna, bahan kain, dan assesorisnya.

Buku ketiga yang juga menyebutkan dan mendeskripsikan tentang kebaya ditulis oleh Augusta de Wit, seorang penulis perempuan dari Belanda. Dia menuliskan catatan perjalanannya sejak tiba di Batavia hingga perjalanannya ke Buitenzorg (Bogor) dan beberapa daerah di wilayah Jawa Barat saat ini dalam buku berjudul “Java, Facts and Fancies”. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1898. Namun buku yang saya baca merupakan edisi kedua dan diterbitkan pada tahun 1905.

Tulisan de Wit-lah yang menguraikan tentang kebaya dengan lebih lengkap.

 “And here is another surprise for the newcomer! – the ladies wear what seems to be the native dress of sarong and kabaya! A kabaya is a sort of dressing – jacket of profusely – embroidered white batiste, fastened down the front with ornamental pins and little gold chains; and under it is worn the sarong, a gaudily-coloured skirt falling down straight and narrow, with one single deep fold in front, and kept in place by a silk scarf wound several time round the waist, its end dangling loose. With this costume, little high-heeled slippers are worn on the bare feet; and the hair is done in native style, simply drawn back from the forehead, and twisted into a knot at the back of the head” (de Wit, 1905, loc. 142)

Pada bagian ini penulis sedang bercerita tentang pengalamannya selama tinggal di Hotel Batavia. Para tamu perempuan yang diceritakan tersebut, tentu saja, adalah para perempuan Eropa. Kebaya dan kain disebutkan sebagai pakaian penduduk asli yang juga dipakai oleh para perempuan tamu hotel tersebut. Dalam bukunya, de Wit memadankan kebaya sebagai dressing-jacket.  Dressing-jacket adalah semacam baju longgar berbahan tipis, biasanya sepanjang pinggul hingga lutut yang dipakai di rumah saat para perempuan berhias atau bersantai  (https://en.wiktionary.org/wiki/dressing_jacket).

Untuk menutup bukaan kebaya, disematkan peniti berhias rantai emas. Padanan kebaya adalah kain panjang yang berwarna mencolok, sandal bertumit, dan rambut yang digelung (lagi-lagi, seperti yang biasa dilakukan oleh penduduk asli). Kain dipakai melingkari badan dari pinggang hingga ke mata kaki dan diikat dengan syal sutra pada bagian pinggang. Seperti halnya yang disebutkan dalam buku Worsfold, kebaya yang dikenakan oleh perempuan Eropa terbuat dari kain katun berwarna putih dan dihiasi dengan renda di bagian tepinya atau kadang disulam tangan.

Saat de Wit mengamati para tamu perempuan di Hotel Batavia, udara siang sedang panas-panasnya. De Wit menjelaskan  bahwa para pendatang Eropa pada masa itu “terpaksa” harus mengganti pakaian ala Eropa mereka yang ketat dengan pakaian yang sesuai dengan cuaca di Jawa yang panas:

“… something cool and strange – into native costume modified in fact! Now, the outward apparel of the Javanese consist of a long straight narrow skirt “the sarong” with a loose fitting kind of jacket over it, – short for the man, who call it “badjoo” and longer for the women who wear it as “kabaya”…” (de Wit, loc. 482).

Meskipun dianggap sebagai sesuatu yang aneh, mau tidak mau untuk melawan udara panas Hindia Belanda, para pendatang dari Eropa harus mengadopsi model pakaian penduduk asli. Mengenai pakaian yang sesuai untuk cuaca panas di Batavia, disebutkan juga oleh Worsfold bahwa pakaian yang dikenakan oleh penduduk asli berbahan katun, sehingga sesuai dengan cuaca panas di daerah itu. Orang-orang Eropa kemudian  mengganti model pakaian Eropa mereka yang ketat dengan model pakaian lokal yang lebih seusai untuk cuaca panas di Batavia (dan Jawa). Tentu saja mereka menyesuaikan dengan mode yang sedang berkembang di Eropa saat itu,yakni  memasang renda di sekeliling kebaya misalnya.

Di bagian atas, saya menyebutkan bahwa kebaya dikategorikan sebagai dressing-jacket. Bagi masyarakat Eropa saat itu, dressing-jacket adalah pakaian yang hanya boleh dikenakan di dalam rumah. Namun, karena cuaca Jawa (dan Hindia Belanda) yang panas, orang-orang Eropa di Jawa tidak ragu untuk mengenakan pakaian yang dianggap sebagai pakaian santai dan longgar (dressing-jacket) tersebut. Sama seperti pakaian yang dipakai oleh penduduk asli dan berani memakainya di luar rumah. Bahkan untuk berjalan-jalan.

Kebaya paling tidak sudah ada di wilayah Indonesia (Hindia Belanda saat itu) ketika Raffles berkuasa (1811 – 1816). Saat itu kebaya (kalámbi) dipakai oleh penduduk asli saja. Namun  pada akhir abad ke-19, kebaya (dan juga kain) tidak saja dikenakan oleh para perempuan penduduk asli, tetapi juga diadopsi dan diadaptasi oleh perempuan Eropa pendatang maupun yang lahir di Hindia Belanda. Kebaya di masa lalu dikenakan oleh para perempuan dari setiap kalangan di wilayah Jawa (dan juga di wilayah Hindia Belanda lainnya).


[i] Buku-buku tersebut saya unduh dari website Project Gutenberg (https://www.gutenberg.org) dalam bentuk kindle. Untuk penulisan halaman saya gunakan loc. (untuk menyebut location di dalam kindle book).

[ii] Buku yang saya baca adalah buku edisi kedua yang diterbitkan pada tahun 1830.

[iii] Buku yang saya unduh dari Project Guttenberg adalah buku cetakan kedua yang diterbitkan pada tahun 1905.

[iv] Menurut KBBI daring, jaket adalah baju luar untuk menahan dingin atau angin (https://kbbi.web.id/jaket)

Avatar
atinitiasmoro
atinitiasmoro@yahoo.co.id
No Comments

Post A Comment