KEBAYA MURAH MERIAH DI SUDUT PASAR BESAR KOTA MALANG

Penulis: Soesi Sastro

Pasar Triwindu Sala dan Pasar Beringharjo dikenal sebagai surganya baju kebaya murah, meskipun di sudut Pasar Besar kota Malang kebaya mbok-mbok harganya jauh  lebih murah.

            Dalam potretnya, terlihat Dian Sastro tengah mencoba sebuah kebaya berwarna pink di dalam sebuah toko antik di Pasar Triwindu. Ia juga kemudian terlihat anggun dengan mengenakan pakaian Jawa tersebut. (Indozone, Selasa, 27 September 2022 11:30 WIB). Sebuah sinyal bahwa kebaya kembali popular. Apalagi setelah Indonesia resmi bergabung dengan Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore dan Thailand dalam rangka menominasikan kebaya sebagai warisan budaya tak-benda (intangible cultural heritage) ke UNESCO baru-baru ini, budaya berkebaya seolah bangun dari tidur panjang.

            Para pegiat kebaya di kota-kota besar sangatlah mudah mendapatkan kebaya aneka model, corak dan ukuran. Bisa membeli kebaya ready to wear (siap pakai) di pusat perbelanjaan tertentu, bisa juga melalui aplikasi online. Atau ke penjahit kebaya langganan hingga ke desainer kebaya yang harganya jutaan rupiah. Geliat kebaya ini ditangkap sebagai peluang bisnis oleh para pedagang pakaian, konveksi bahkan butik-butik eksklusif dan oleh beberapa pegiat kebaya itu sendiri. Lalu bagaimana masyarakat akar rumput mendapatkan kebayanya di pasar-pasar lokal?.

Lapak kebaya Haryati

            Bukan rahasia lagi, pasar-pasar di Yogya, Solo, Pekalongan, Denpasar, Gianjar banyak sekali dijual kebaya siap pakai. Akan tetapi pasar-pasar Kabupaten di Jawa sudah jarang penjual busana tradisional ini. Pakaian yang dijual umumnya baju muslim, gamis, batik, baju pesta dan kebaya modern berpayet. Bahkan perempuan yang berjualan di pasar pun tidak lagi mengenakan kebaya dan kain panjang (jarik). Berbeda dengan jaman dulu sampai tahun 80-an, pasar dipenuhi perempuan berkebaya. Sekarang pilihannya gamis atau celana panjang dipadu kaos atau blus karena alasan kepraktisan beraktivitas.

            Di sudut Pasar Besar kota Malang, kita masih bisa menemukan penjual kebaya. Bukan di toko yang megah tetapi di lapak tukang jahit biasa. Lokasinya di lantai dua. Dari arah pintu masuk utama, naik tangga menuju blok paling selatan di pasar. Ada 12 lapak tukang jahit dan permak pakaian. Jumlah tersebut berkurang drastis dibandingkan tahun 1980 ada 60 lapak.  Selain beberapa tukang jahit meninggal, profesi ini banyak ditinggalkan karena dianggap tidak menguntungkan lagi penghasilannya.

            Menurut sejarah, Pasar Besar kota Malang sudah ada sejak jaman Hindia Belanda. Pemerintah Kota Malang mengambil alih pasar tersebut tahun 1914, kemudian membangun ulang tahun 1919 hingga 1924.  Setelah pasar direnovasi tahun 1973, bangunan berubah menjadi dua lantai dan lapak tukang jahit terkonsentrasi di lantai dua.

            Haryati dan Liana (mbak Lin) adalah dua tukang jahit dan permak pakaian sekaligus penjual kebaya. Hampir 16 tahun Haryati meneruskan usaha jahit almarhum mertuanya. Sedangkan mbak Lin menjahit sejak gadis (tahun 1978),  kemudian membuka usaha modiste baju kantor dan kebaya pesta. Dia sulap lapak arloji milik almarhum ayahnya menjadi lapak jahit dan etalase penjualan kebaya. Tampak kebaya-kebaya digantung berjejer rapi walaupun tanpa plastik pembungkus. Demikian pula stok kebaya bertumpuk di karung-karung besar dan lemari gerobok (peti besar penyimpan pakaian – KKBI). Kadangkala untuk promosi, mbak Lin juga mengenakan kebaya meskipun tertutup kerudung.

            Kebaya-kebaya yang dijual modelnya kutubaru (kebaya mbok-mbok – sebutan di pasar), tanpa kancing dan hanya satu ukuran (all size). Bahannya katun, satin, sifon, tafeta, polyester dan brokat tipis. Motifnya ada polosan, kembangan, abstrak, timbul. Warnanya juga variatif, ada putih, hitam, warna pelangi bahkan warna-warna elektrik. Jangan mencari kebaya motif jumputan atau kebaya lurik karena tidak tersedia di lapak mereka.

Haryati penjual kebaya

            Menurut Haryati, kebaya-kebaya tersebut bukan jahitannya sendiri dan bukan pula kebaya  preloved. Semua kebaya baru, kiriman (konveksi) dari luar kota Malang. Sekali kirim 10-20 kodi (200-400) kebaya. Jumlah itu bisa terjual dalam waktu satu sampai empat bulan tergantung permintaan di pasar. Haryati juga menyediakan kebaya lebih bagus, buatan penjahit asli Malang.  

            Pelanggan Haryati umumnya pedagang pakaian dari Pasuruan, Probolinggo, Batu, dan Gunung Kawi. Mereka rata-rata membeli 5-10 kodi kebaya, dijual lagi untuk kebutuhan perempuan di desa-desa, terutama nenek-nenek (mbah-Bahasa Jawa). Barangkali dari lapak inilah kebutuhan kebaya bagi sebagian masyarakat akar rumput wilayah timur Malang terpenuhi. Pembeli lain adalah pelajar dan mahasiswa seputar Malang. Anak-anak muda itu umumnya minta kebayanya dipermak, diubah model lengan pendek atau tanpa lengan. Banyak juga ibu-ibu peserta senam memborong kebaya sampai 5 kodi.

Mbak Lin penjual kebaya

            Beda lagi di lapak mbak Lin, pembelinya kebanyakan ibu-ibu kantoran dan orang Bali selain mahasiswa. Kebaya dipakai untuk karnaval, seragam menari, upacara keagamaan, acara di kampus, photografi, bahkan sebagai kado ulang tahun. Kata salah satu pelanggan, lapak disini cukup membantu ketika butuh kostum kebaya mendadak. Karena allsize dan bahannya dari kain kiloan ex garmen, asal sabar memilah dan memilih pasti dapat kebaya sesuai keinginan.

            Jangan kaget, harga satu kebaya kutubaru dibandrol Rp. 30 ribu – Rp. 40 ribu. Harga itupun masih bisa ‘terjun bebas’ alias ditawar lagi apabila membeli dalam jumlah banyak. Kebaya juga bisa langsung dipermak sesuai permintaan. Jasa permak termasuk pasang kancing hanya Rp. 10 ribu – Rp. 20 ribu. Bagi yang ingin penampilan lebih vintage, mereka juga menjual ‘kutang benik depan’ aneka warna, bra nenek jaman dulu kala.

            Hingar bingar gerakan berkebaya apalagi Kebaya Goes to Unesco memang tidak sampai ke telinga Haryati dan mbak Lin. Mereka tidak paham dan tidak harus paham akan hal itu, meskipun gerakan berkebaya (mungkin saja) berdampak pada permintaan kebaya di lapak mereka. Harapan mereka sederhana saja, kebayanya laris usaha lancar, anak-anak muda mau berkebaya tidak untuk seremonial saja dan orang di desa-desa tetap berkebaya.

            Jadi, siap-siap saja berwisata kebaya ke kota Malang.

                                                                                                            Depok, 5 April 2023

Bagaimana menurut Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0
+1
2
+1
1
Tags:
,
Avatar
atinitiasmoro
atinitiasmoro@yahoo.co.id
No Comments

Post A Comment