Kebaya Nasional Indonesia

Foto: Wikipedia

Bulan April adalah bulannya perempuan Indonesia yang ditandai dengan Hari Kartini. Hari kelahiran RA. Kartini yang jatuh pada 21 April mengingatkan perempuan di seluruh Indonesia akan tampilan tradisional perempuan Jawa. Berwajah lembut, berkebaya, lengkap dengan kain batik, dan rambut berkonde, namun cerdas berpendidikan. Kartini adalah lambang emansipasi perempuan pada masanya.

Namun ternyata, kebaya tak hanya monopoli budaya Jawa. Kebaya kini jadi pakaian yang umum dikenakan perempuan di seluruh Tanah Air. Kata kebaya diduga berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘abaya’, yang berarti pakaian. Namun ada juga pendapat yang menyebut kebaya berasal dari negeri Tiongkok sejak ratusan tahun yang lalu. Jenis pakaian kebaya itu lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatra, dan Sulawesi. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun, pakaian itu akhirnya diterima dalam budaya dan norma masyarakat setempat.

Foto: Wikipedia

Meskipun hingga kini masih banyak silang pendapat tentang asal-usulnya, kebaya diketahui sudah ada di ranah budaya nusantara sejak abad ke-15. Bentuk awal kebaya diketahui muncul di kerajaan Majapahit sebagai busana permaisuri dan para selir raja.

Oleh karena itu, sebelum tahun 1600, di Pulau Jawa, kebaya merupakan pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan. Selama masa kendali Belanda di nusantara, para perempuan Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Kebaya pun diubah dari hanya berbahan kain mori sederhana menjadi busana berbahan sutra dengan sulaman bunga atau sulur warna-warni.

Pada abad ke-19, kebaya sudah digunakan semua strata sosial, baik perempuan Jawa maupun peranakan Belanda. Bahkan, kebaya sempat jadi pakaian wajib bagi perempuan Belanda yang ingin ke Indonesia.

Foto: Wikipedia

Budaya kolonial yang amat kental ketika penjajahan Belanda juga berimbas pada kelas sosial kebaya. Busana cantik ini dibuat sebagai pembeda status sosial. Perempuan dari keluarga ningrat, keraton, ataupun bangsawan senantiasa memakai kebaya dengan bahan sutra, beludru atau brukat. Sementara itu, perempuan keturunan Belanda atau Indonesia menggunakan kebaya dari bahan katun halus dengan pinggiran brukat atau sulaman. Bagi masyarakat kelas bawah, kebaya yang dipakai biasanya berbahan kain katun dari benang lawe yang tipis dan murah.

Ketika penguasaan nusantara beralih ke negeri Nippon, Jepang, popularitas kebaya dapat dikatakan turun karena perdagangan tekstil saat itu terputus. Tak hanya itu, kebaya juga dianggap sebagai pakaian perempuan tahanan dan pekerja paksa. Keadaan itu penggunaan kebaya baru kembali populer saat awal kemerdekaan.

Presiden Soekarno-lah yang mengubah ‘keterpurukan’ kebaya. Soekarno, pada 1940-an, menentukan kebaya sebagai kostum nasional. Kebaya kemudian menjadi lambang emansipasi perempuan, mengingat pakaian itulah yang lekat dikenakan RA Kartini sebagai bentuk kebangkitan tokoh perempuan pada zamannya.

Kini,  komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia pada tanggal 5-6 April 2021 akan menggelar perhelatan nasional Kongres Perempuan Berkebaya Indonesia 2021. Pehelatan akan dibuat secara online maupun offline  dengan beragam varian kegiatan untuk memotivasi masyarakat agar mengambil bagian menjadikan kebaya sebagai busana nasional Indonesia, khususnya untuk kaum anak muda milenial. Kongres ini juga dimaksudkan sebagai satu kegiatan mensosialisasikan kebaya untuk busana kebanggaan perempuan Indonesia.

End-

 

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment