Kisah Patriotik Sebungkus Nasi Jamblang Dalam Perang Kemerdekaan

Penulis: Dewi Suspaningrum

Singgah di Cirebon, apalagi pas perut lapar, belum sah jika belum terisi nasi Jamblang Mang Dul atau Empal Gentong depan stasiun kereta api Cirebon.

Ini bukan kisah Bang Doel Anak Betawi ya, sahabat. Tapi bang Dul kali ini adalah pemilik usaha kuliner Nasi Jamblang makanan khas Cirebon, Jawa Barat.

Ciri khas nasi Jamblang adalah pada penggunaan daun jati sebagai pembungkusnya. Nasi Jamblang ini namanya sebenarnya berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon, tapi kemudian berkembang dan justru menjadi kuliner kota Udang ini.

Konon, makanan ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan semasa perjuangan kemerdekaan, biasanya untuk makanan para pejuang RI yang diberikan secara sukarela oleh rakyat yang rumahnya dilintasi para pejuang. Hebat-kan kisahnya perjuangan dibalik nasi Jamblang yang lezat ini.

Nasi Jamblang Mang Dul. Sebenarnya adalah usaha turun-temurun yang kini dipegang generasi ke-3. Warungnya yang dulu hanya sebuah rumah toko berdinding kayu di pinggir jalan Cipto Mangunkusumo No.8 Pekiringan, Kesambi, Cirebon. Tapi kini tampilannya kian modern bukan lagi sebuah rumah, melainkan cenderung selayaknya sebuah caffe milenial.

Sementara itu untuk jam bukanya mulai dari pukul 05:00 karena biasanya nasi Jamblang ini adalah menu untuk sarapan. Namun Mang Dul saat ini buka hingga malam hari, dan tidak terbatas hanya untuk makan pagi tapi juga makan siang, ataupun makan malam.

Ada beberapa cabang lainnya yang bisa dikunjungi. Untuk harganya tidak terlalu mahal, satu porsi nasi jamblang ditambah dengan sayur tahu, cumi hitam, dan sambal khas Cirebonan dipatok hanya Rp17.000 saja.

Sebenarnya, harganya tergantung pada lauk yang dipilih konsumen. Namun seberapa banyak kita makan nasi Jamblang harganya tetaplah masih bisa dibilang bersahabat dengan kantong kita.

Sementara untuk Empal Gentong, pilihan saya adalah warung kecil di depan Stasiun Kereta Api Cirebon. Kini beriringan dengan pengembangannya, warungnya-pun turut membesar karena banyak konsumen yang bertandang sebab rasanya yang paten, mantap juga dengan harga yang relatif murah.

Dewi@Kenariguesthouse

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment