Kopi Tanpa Ampas Yang Bikin Nagih di Warkop Bintangor

Oleh Erick Tamalagi

“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Ada info kita harus antri karena jalannya gantian dengan yang dari arah sebelah,” ajak drh Yongky agar kami segera bersiap ke Entikong. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.05., kamipun segera bergegas memeriksa barang dan beberapa peralatan lainnya.

Kekhawatiran Yongky terbukti. Belum sejam meninggalkan Pontianak, kami terpapar pandangan antrian mobil menunggu giliran jalan. Untunglah suasana ini tidak terlalu lama. Sekira 15 menitan, mobil kami lolos dari situasi ini, mobil kamipun meluncur dengan kecepatan rata-rata 80 km / jam.

Saat perjalanan kurang lebih 2,5 jam, laju  mobil  tiba tiba melambat dan menepi di sebelah kanan jalan, lalu parkir. “Kita ngopi dulu, pak.”

Sekilas tidak ada yang istimewa ditempat ini, kecuali kendaraan yang banyak terparkir, menutupi semua lahan parkir yang ada di depan dan samping warung. Nama tempatnya Warung Kopi Bintangor. Saya sempat melihat pal jalan : km.145.

“Kopinya disini khas, nggak pake ampas. Yang buat itu Haji Edi. Dulunya beliau pegawai BRI sampai jabatan Kepala Unit, tapi minta pensiun dini,” jelas  Yongky.

Sayapun mulai memperhatikan Haji Edi. Saat dirinya meracik kopi pesanan kami, saya mendekatinya sambil mengabadikan beberapa adegan yang dilakukan.

Sebuah gelas berukuran besar berbahan stainless dan cerek berbahan yang sama menjadi wadah pembuatan pesanan kami. Kopi yang telah diseduh air panas kemudian dipindahkan ke cerek. Namun cara memindahkan bukan sekedar tuang, saya mengamati proses memindahkan kopi dari cangkir ke cerek lalu cangkir  lagi secara berulang ulang, menggunakan ukuran ketinggian tertentu.

Saat mengantarkan pesanan kami, saya mendapat kesempatan bercakap cakap dengan Haji Edi. “Cuma empat orang yang boleh membuat kopi. Saya dan anak pertama saya nanti digantikan dua orang lepas maghrib sampai pagi,” kata Haji Edi.

Wooow, ternyata warkop ini buka 1 x 24 jam.

Haji Edi kemudian mengambil penganan lain sebagai teman minum kopi. “Silahkan dicoba sambil minum kopi, ini tape uli dan tape ketan.”

Meski saya belum pernah minum kopi ditemani tape, sore itu saya melakukannya, dan menghabiskan dua bungkus tape ketan.

“Aneh juga ya, tapi oke koq. Kopi pahitnya toop, nyampur asam asam manis tape,” komentar saya. “Kopinya kopi bubuk asli Pontianak pak. Rata rata setiap dua hari saya habiskan 8 liter atau dua kaleng besar kopi,” jelas Haji Edi saat saya tanyakan tumpukan kaleng yang menggunung berderet di depan kamar kecil.

Haji Edi menjalankan usaha ini baru tujuh tahun setelah dirinya memutuskan pensiun dari Bank BRI. Lokasinya saat ini di ruas jalan Pontianak – Entikong, baru digelutinya 1 tahun delapan bulan.

“Sebelumnya di Pasar Sosok pak. Waktu buka pertama, ratusan gelas saya coba buat  ajarkan pada anak pertama saya. Anak kedua masih kuliah di Yogya, dan lagi melihat peluang buka cabang disana,” ujar H. Edi.

Meski namanya Warkop Bintangor, tapi aneka makanan ada disini. Es Dawet Banjarnegara, Bakso hingga Ikan Nila dan Ayam Goreng siap menjawab kebutuhan mereka yang transit di tempat ini.

“Ini tempat favorit pelintas jalur Pontianak Entikong maupun Sanggau. Bahkan kalau tempat lain ngopi di Pontianak itu yang punya warga Cina, disini kebalikannya. Warga Cina yang datang ngopi di Warkop Bintangor Haji Edi. Warkop ini memang bukan Warkop Biasa,” kata salah seorang kawan yang baru bertemu ditempat ini.

 

Erick/tie/Kenariguesthouse

 

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment