Kue Klepon dan Pelajaran Tentang Kesederhanaan

Penulis: Elvy Yusanti

Klepon sebagai menu di sore hari, bisa dinikmati dengan secangkit teh hangat

Cukup seringkah menu makanan tradional hadir di meja makan rumah kita? Sebagian besar makanan tradisional itu sebetulnya cara membuatnya mudah dan bahan bakunya mudah didapat.

Hal yang membuat kita segan memasak menu jaman dulu biasanya karena khawatir anak-anak di rumah tidak suka. Saya pribadi sering memasak Nasi Tutuk Oncom, Tahu Telur khas Malang, Bubur Candil, Bubur Sumsum, atau Tiwul agar anak-anak mengenal makanan tersebut, syukur-syukur mencicipi dan menyukainya.

Klepon adalah salah satu kudapan kesukaan anak-anak di rumah. Awalnya mereka tahu dari penjual Klepon dan Kue Putu yang lewat di depan rumah. Setiap ada suara khas saat mengukus Kue Putu, mereka langsung keluar dan membeli.

Selain Kue Putu, mas penjual juga membawa Klepon. Hal yang paling disuka anak-anak dari makanan khas Jawa ini saat menggigitnya. Lumeran gula merah dipadu dengan lapisan tepungnya yang kenyal memberikan sensasi tersendiri. Biasanya kalau si penjual lama nggak lewat, saya membuatkan sendiri Klepon untuk camilan sore anak-anak.

Bahan:
250 gram tepung ketan, 50 gram tepung beras, sedikit garam.

Caranya:
setelah semua bahan dicampur lalu uleni dengan air secukupnya. Saya tambahkan campuran air Daun Suji dan Pandan Wangi agar aromanya alami. Jika tidak ada, beri pewarna makanan hijau atau pasta pandan. Setelah adonan bercampur, ambil sedikit pipihkan, masukkan gula merah yang telah disisir lalu bentuk bulatan.

Masukkan Klepon yang sudah dalam bentuk bulat ke dalam air mendidih, setelah mengambang angkat. Masukkan Klepon dalam kelapa parut yang sebelumnya sudah dikukus lalu guling-gulingkan sampai Klepon tertutup kelapa siap dinikmati.

Jajanan pasar seperti Klepon ini menggambarkan kesederhanaan dan tidak mengenal strata sosial apalagi dikait-kaitkan dengan agama.

Tags:
,
Elvy Yusanti
Elvy Yusanti
elvy@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment