Makna Simbolis Nasi Tumpeng

Penulis : Atie Nitiasmoro

KREDIT FOTO: Wikipedia/Gunawan Kartapranata

Tumpengan biasanya dilakukan sebagai ungkapan syukur, terima kasih kepada Tuhan atas anugerah apa pun bentuknya yang diterima, atas keselamatan, slametan, untuk memperingati peristiwa atau momen penting dan sebagainya. Saat pemotongan tumpeng, biasanya diserahkan kepada orang yang dihormati, yang dituakan, sebagai bentuk penghormatan. Dan, setelah itu dimakan bersama-sama sebagai lambang kerukunan, kebersamaan. Potong tumpeng juga menjadi salah satu ritual dalam perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.

Tradisi tumpeng awalnya  dilakukan oleh masyarakat Jawa, Madura, Bali dan kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng terkait erat dengan kondisi geografis Indonesia terutama pulau Jawa yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang atau arwah leluhur .

Presiden Joko Widodo memotong tumpeng saat upacara peringatan ulang tahun Kemerdekaan RI ke 74 tahun. Dok. Catering Proklamasi

Nasi tumpeng adalah salah satu ragam racikan nasi, yang jenisnya pun beragam. Pada tahun 2013, Kementeritan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia menyatakan nasi tumpeng sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner Indonesia. Selain nasi tumpeng, ikon kuliner Indonesia lainnya antara lain, nasi liwet, sate lilit Bali, sate ayam Madura, rawon Surabaya, urap sayuran Yogyakarta, nasi goreng kampung, dan gado-gado Jakarta.

Dalam masyarakat dan tradisi Jawa, nasi tumpeng memiliki filosofi yang sangat dalam. Misalnya, ujung tumpeng yang runcing dan juga bagian mustaka (kepala), merepresentasikan nirwana. Sedangkan bagian tubuh tumpeng melukiskan proses emanasi (pancaran atau sesuatu yang memancar atau mengalir) dan penarikan kembali yang terdiri dari tujuh tingkatan (Suwardi Endraswara, 2018).

Tujuh tingkatan emanasi itu dilukiskan dalam ritual tingkeban atau tidhak siten. Tingkeban adalah perayaan bayi dalam kandungan berumur tujuh bulan, yang melukiskan manusia telah terbentuk. Dalam ritual ini, ibu harus mengenakan kain batik (jarit) tujuh kali. Slametan ini tergambar dalam tujuh puncak tumpeng, tujuh macam bubur, dan tujuh macam rujak. Angka “tujuh” yang dalam bahasa Jawa disebut pitu, artinya pitulungan, pertolongan.

Bentuk nasi tumpeng yang mengerucut, meruncing juga melambangkan harapan. Harapan agar hidup selalu sejahtera. Meruncing (mengerucut) melambangkan  tangan merapat untuk selalu menyembah Tuhan. Kata tumpeng adalah akronim dari “yen metu kudu mempeng”; kalau keluar harus sungguh-sungguh. Bisa diartikan, kalau keluar rumah untuk bekerja, misalnya, harus sungguh-sungguh.

Nasi yang digunakan biasanya nasi putih atau nasi uduk. Warna putih berarti suci sehingga nasi tumpeng jenis ini kerap disajikan dalam upacara keagamaan. Sementara warna kuning melambangkan kesejahteraan, kekayaan, atau rezeki yang melimpah.

Macam-macam Tumpeng

Ternyata ada berbagai macam jenis tumpeng dan bentuk yang berbeda-beda, serta digunakan untuk momen yang khusus pula. Antara lain:

  1. Tumpeng Robyong: Tumpeng ini biasa disajikan pada saat upacara siraman menjelang acara pernikahan dalam adat Jawa. Tumpeng robyong diletakkan di  bakul yang dilengkapi dengan berbagai macam sayuran. Di puncak tumpeng  diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah, dan cabai. Tumpeng robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan; menggambarkan kemakmuran sejati. Dalam upacara dilengkapi dengan tumpeng robyong dengan harapan agar si pengantin atau pemohon selalu di-obyong-obyong atau dikelilingi sanak saudara, handai taulan, dan teman-teman tercinta.
  2. Tumpeng Nujuh Bulan: Sesuai dengan namanya, maka nasi tumpeng ini digunakan pada saat upacara tujuh bulanan kehamilan.  Tumpeng ini terbuat dari nasi putih berjumlah tujuh: satu tumpeng besar diletakkan di tengah dikelilingi enam tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang batu.
  3. Tumpeng Nasi Kuning: Disebut tumpeng nasi kuning karena menggunakan nasi berwarna kuning. Tumpeng ini digunakan untuk acara-acara syukuran, ungkapan kegembiraan. Misalnya, kelahiran, tunangan, pernikahan, bahkan juga naik pangkat. Warna kuning melambangkan kemuliaan, kekayaan, dan moral yang luhur.
  1. Tumpeng Dlupak : Puncak tumpeng ini cekung, seperti bentuk dua telapan tangan yang dirapatkan menengadah ke atas dalam doa. Tumpang dlupak mengandung makna agar  keinginan dan harapan si empunya hajat dikabulkan.
  2. Tumpeng Playon (salah satu sesaji dalam tingkeban) adalah tumpeng yang diletakkan di encek dengan lauk ingkung  atau ayam panggang. Sajian ini dinamakan tumpeng playon karena terkait dengan cara pengambilannya, yaitu dengan cara mlayu ‘berlari”. Dengan sesaji berupa tumpeng playon ini diharapkan kelak anak yang lahir pikirannya cerdas, pintar, dan gesit, serta penuh inisiatif.
  3. Tumpeng Among-among –  Tumpeng among-among berupa nasi berbentuk kerucut   di lengkapi dengan sayur mayur dan lauk pauk. Tumpeng ini sebagai lambang penghormatan kepada kyai dan nyai amongsari serta kyai dan nyai bodo yang di percaya sebagai pamomong atau pengasuh manusia serta menjaga keselamatan manusia. Sekarang dimaknai sebagai memohon perlindungan kepada Tuhan bagi keselamatan anak-cucu.
  4. Tumpeng Pungkur: Tumpeng pungkur berbentuk nasi tumpeng seperti gunungan yang dibelah menjadi dua dari atas hingga bawah; kemudian diletakkan saling membelakangi, ungkur-ungkuran. Tumpeng ini dilengkapi dengan jangan adem atau sayuran yang tidak pedas; gudangan (urap) tetapi tidak menggunakan kecambah atau tauge, kangkung serta daun jlengor (daun ubi jalar). Tumpeng ini melambangkan perpisahan antara orang yang telah meninggal dengan yang masih hidup. Tumpeng ini mengandung makna agar orang yang mengadakan slametan terbebas dari segala pengaruh jahat atau sebagai tolak-bala,sehingga situasi keluarga senantiasa adam ayem
  1. Tumpeng Megana. Tumpeng ini dibuat untuk merayakan suatu kelahiran, dengan nasi bewarna putih yang merupakan lambang kesucian dan sayur mayur yang merupakan lambang pengharapan doa bagi kehidupan sang anak kelak. Hiasan paling mencolok dari tumpeng ini adalah telur, bawang merah, dan cabai berada di puncak tumpeng yang juga memiliki arti di baliknya.
  1. Tumpeng Punar. Tumpeng ini untuk mengekspresikan rasa syukur dan kegembiraan. Misalnya, kelahiran anak, atau ulang tahun, kenaikan pangkat, dan mendapat rezeki.  Dengan membuat tumpeng ini terkandung harapan agar kehidupan keluarga cerah. Lauk pauknya berbeda dengan tumpeng megana dan biasanya menggunakan kedelai goreng, abon, kering tempe, dan lain-lain,
  2.  Tumpeng Nasi Uduk – Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi.

 

Jakarta, tie, 03072020

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment