Nasi Megono Nasi Perjuangan

Penulis : Dewi Suspaningrum

“Nasi Megono” atau “Sego Megono”, adalah makanan khas dari daerah Pantura, Jawa Tengah. Makanan ini sangat familiar di wilayah Pekalongan, Batang, Pemalang, Tegal, Brebes hingga Gombong dan Kebumen, Jawa Tengah. Makanan ini kini banyak ditemukan di warung-warung makan atau bahkan tempat jualan kecil di depan rumah warga yang biasanya menjadi menu untuk sarapan.

Nasi megono dijual rata-rata dengan harga antara Rp. 5000,- hingga Rp. 20.000,-/bungkus tergantung lengkap tidaknya isi atau teman nasi. Idealnya nasi megono terdiri dari nasi yang diberikan cacahan nangka muda atau tumisan cangkang melinjo dengan tempe mendoan atau tempe bengkuk (tempe kacang koro) serta serundeng dengan irisan daging kecil-kecil. Serundeng adalah parutan kelapa yang disangrai dengan gorengan daging sapi kecil-kecil dan rasanya manis karena diberi sedikit gula merah saat memasaknya. Hampir sejenis dengan nasi Krawu di Gresik, Jawa Timur.

Sego Megono dalam sejarahnya awalnya digunakan sebagai sesaji untuk Dewi Sri atau Dewi Kemakmuran bagi masyarakat Jawa. Sego Megono sebenarnya merupakan bagian dari budaya Keraton Yogyakarta, yang sebelumnya bernama Mataram Kuno. Nasi Megono dulunya adalah makanan bagi keluarga raja terutama saat mereka bepergian, atau makanan sesaji dalam upacara Bekakak.

Upacara Bekakak merupakan pemberian sesaji yang dilakukan masyarakat wilayah Mataram Kuno, untuk junjungan mereka, Dewi Sri atau Dewi Kemakmuran. Tujuan sesembahan ini supaya hasil panen melimpah dan rakyat hidup makmur.  Sego megono merupakan makanan berbahan gudang atau gori (nangka muda) namun kini sudah banyak diganti dengan tumisan cangkang atau kulit buah melinjo, dan urapan cecek (urapan nangka muda dicacah dan dibumbui parutan kelapa) dibentuk menyerupai nasi tumpeng. Dan bila untuk bepergian maka bisa langsung dibungkus daun pisang.

Ketika ajaran Islam masuk ke pulau Jawa melalui wali songo, sego megono menjadi makanan suguhan saat buka puasa ramadhan, atau hajatan hingga upacara atau thalil di masjid-masjid. Makanan ini memang banyak di sukai dan murah meriah serta gampang dibuat. Akhirnya makanan ini menjadi makanan dikala pesta pernikahan, hajatan sunatan hingga upacara kematian.

Dimasa perjuangan, masyarakat yang membantu para pasukan tentara dan pejuang yang berperang secara gerilya selalu menyediakan nasi megono untuk mereka yang bersembunyi atau terpaksa tinggal dihutan-hutan sepanjang pulau Jawa. Saat perang kemerdekaan memang nasi megono ini disajikan sederhana sesuai kondisi perekonomian masyarakat pada saat itu, yang memang krisis namun yang tidak pernah tertinggal adalah parutan kelapa yang disangrai dengan tambahan sedikit gula sehingga manis rasanya dan berfungsi untuk menambah tenaga. Diharapkan dengan memakan nasi megono fitalitas tentara kita kembali pulih dan memiliki kekuatan penuh untuk bekerja atau berjuang kembali.

Dari sinilah, akhirnya nasi megono dikenal sebagai nasi perjuangan karena inilah bentuk keterlibatan warga dalam membantu pejuang meraih kemerdekaan Indonesia agar bisa terus bertahan di hutan-hutan demi perjuangan untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang akhirnya tercetus pada tanggal 17 Agustus 1945.

Merdeka… !!!! Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75.

Kebumen, Dee, 08082020

End-

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment