Perjalanan Ke Curug Penyantelan yang Memicu Adrenalin

Oleh: Elvy Yusanti

Kawasan Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat saat ini menjadi destinasi favorit warga Jabodetabek untuk berwisata alam. Di kawasan sejuk ini sejumlah curug dan leuwi menjadi lokasi yang tidak pernah sepi pengunjung. Sebut saja Leuwi Hejo, Lieuk, Leuwi Cepet, Curug Ciburial, Hordeng, Ngumpet dan masih banyak lagi.

Rabu, 2 Desember lalu sahabat saya Fitri dan suaminya Didin mengajak trekking ke Sentul dengan tujuan Curug Panyantelan. Sebelumnya, mereka sudah pernah ke Leuwi Hejo nan eksotis dan Curug Ngumpet yang menawan. Saya penasaran dan ingin sekali kesana setelah melihat di media sosial foto-foto curug yang lagi viral. Tapi sayangnya, info Curug Panyantelan sangat minim.

Sekitar pukul 08:00 kami memulai perjalanan diantar Mas Karim, pemandu dari Omah Mas Mbarep, Sentul yang ramah dan helpfull. Ini adalah trekking pertama saya setelah sakit yang mengharuskan kantung empedu diangkat. Agak was-was sebetulnya, tapi saya berpikir perjalanannya tidak selama dan seberat saat mendaki gunung.

Beruntung cuaca pagi itu cerah, langit tampak terang tapi matahari tidak terlalu terik. Kami tidak tahan untuk tidak berfoto meski perjalanan baru saja dimulai. Jalur menuju Hutan Cisadon melalui Jalan Prabowo dimana terdapat peternakan sapi dan kambing yang sangat luas. Pasti teman-teman menebak, Jalan Prabowo identik dengan nama Menhan Prabowo Subiyanto. Nah, informasinya kawasan ini memang milik Pak Prabowo.

Perjalanan dilanjutkan, kami mulai memasuki kawasan Hutan Cisadon yang menanjak. Sesekali jalanan yang kami lalui basah karena semburan bocoran pipa atau aliran air yang berasal dari mata air yang tersebar di beberapa titik sehingga tanahnya licin.

Saya agak kaget dengan trek yang kami lalui karena jarang sekali dapat bonus (turunan). Agak berat buat saya yang beberapa bulan lagi memasuki usia 50 tahun ditambah sudah lama tidak trekking jarak jauh. Wow!!

Alhamdulillah teman seperjalanan saya selalu menyemangati dan ikhlas menunggu saat nafas tidak bisa mengimbangi kaki yang ingin cepat-cepat sampai. Sepanjang perjalanan, banyak kami temui pohon kopi. Kawan saya Didin, pemilik Chanda Coffee and Tea Sawangan, Depok terlihat exited.

Sambil mengamati pohon kopi yang telah berbuah, ia bercerita sejarah awal kopi yang ditemukan penggembala kambing di Yaman. Selain tanaman kopi, berbagai jenis Tanaman Keladi yang lagi viral tumbuh di sepanjang jalan.

Meskipun trek cukup menguras energi, karena view Hutan Cisadon yang cantik dan cuaca cerah ditambah teman seperjalanan yang menyenangkan, medan berat yang dilalui jadi terlupakan. Akhirnya, setelah berjalan sekitar 1,5 jam, kami sampai di curug pertama.

Oiya, Curug Penyantelan menurut Mas Karim, memang belum banyak dikunjungi. Sepanjang perjalanan kami hanya bertemu dengan pasangan suami istri. Mungkin karena jalannya juga weekday. Kami sengaja berangkat di hari kerja untuk menghindari macet dan kerumunan. Berbeda dengan curug lainnya yang sudah menjadi kawasan wisata, curug ini masih perawan dan bersih. “Semoga tetap seperti ini, terjaga keasriannya dan tidak ramai,” kata Mas Karim.

Curug pertama tidak terlalu tinggi, tapi suara air terjunnya cukup kuat dan kolamnya sedalam paha orang dewasa. Dari beberapa sisi, air keluar dan mengalir dari mata air. Seperti anak kecil yang baru pertama melihat air bening yang berlimpah, saya dan Fitri segera berendam.
Perjalanan masih berlanjut ke curug kedua, jaraknya hanya sekitar 20 meter. Air di curug ini tidak sederas curug pertama.

Sesampai di curug kedua saya memutuskan untuk menyudahi perjalanan, tapi Mas Karim membujuk untuk melanjutkan ke curug utama. Saya memutuskan cukup sampai di curug kedua, pasalnya, untuk sampai ke curug utama harus menaiki batuan di sisi kiri curug yang tingginya sekitar 3 meter.

Setelah menimbang dan ragu-ragu, akhirnya saya nekad naik dibantu Mas Karim. Kenekatan yang tidak sia-sia. Curug Penyantelan yang menakjubkan ada di depan mata. Masya Allah. Alangkah menyesalnya, seandainya saya tadi memutuskan untuk tidak menaiki batuan untuk sampai ke sini. “Ahh, jadi malas pulang,” teriak saya.

Setelah sekian lama di rumah aja karena masa pandemi, menyaksikan pemandangan sangat indah ini seperti mendapat berkah. Hilang sudah lelah dan beratnya trek yang saya lalui untuk sampai di sini. Malam sebelum jalan, saya sempat mengeluh ke suami nggak enak badan karena flu. Entah karena saking bahagianya, badan jadi terasa fit meski untuk sampai ke sini cukup menguras tenaga. Sulit mendiskripsikan kecantikan Curug Penyantelan. Teman-teman bisa melihat dari foto-foto yang saya posting di sini. Hehehehe

Setelah puas main air, kamipun pulang. Ada yang lucu dari perjalanan meninggalkan Curug Penyantelan. Karena perjalanan menuju curug nanjak, saya berpikir pulangnya akan ketemu banyak bonus. Hmmm, ternyata, Mas Karim mengambil jalan pintas yang menghemat waktu. Jadinya pulang tetep ketemu jalan nanjak. Hahahaha.

Meskipun kaki dan paha pegal, belum sampai rumah saya sudah berucap ingin melakukan perjalanan serupa di destinasi yang berbeda. Perjalanan menjelajah alam selalu menyenangkan dan memunculkan pengalaman baru. Meski menapak jalan terjal, mendaki, atau menapak turunan curam yang menantang, selalu membuat ingin kembali.

Seperti perjalanan hidup manusia, proses yang dilalui dan liku-likunya adalah hal yang sangat berharga. Ketika kita sampai di puncak gunung atau kesuksesan itu adalah bonusnya.

Elvy Yusanti
Elvy Yusanti
elvy@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment