Plered, Ikon Gerabah Jawa Barat

Penulis : Dewi Suspaningrum

Sebenarnya sudah beberapa kali saya melewati kota ini apalagi saat sebelum tol Cipularang belum terbangun. Jalan alternatif menuju Bandung hanyalah lewat puncak Cianjur, atau Purwakarta maupun Subang, Jawa Barat. Saya-pun sudah tahu sejak lama wilayah Plered merupakan daerah penghasil kerajinan gerabah keramik. Tapi saya baru tahu detailnya siang tadi saat melakukan peliputan dikota yang menjadi bagian dari kabupaten Purwakarta ini. Plered ternyata sudah mengenal pembuatan keramik sejak zaman neolithikum. Tapi baru memasyarakat sejak tahun 1900-an.

Saat ini pembuatan gerabah keramik rata-rata dipegang oleh generasi ke-4 atau ke-5. Hebatnya meski sudah seabad mereka tidak pernah kekurangan bahan baku yaitu tanah liat yang banyak terdapat didaerah ini. Tanah-tanah pertanian disini lebih bermanfaat menjadi bahan utama untuk membuat gerabah ketimbang menjadi lahan pertanian.

 

Meski terasa imbasnya dalam krisis moneter termasuk krisis global saat ini, gerabah keramik tetap terhitung eksis. Buktinya permintaan pasar tidak pernah sepi. Tidak heran 95 % penduduk plered Cirata mengantungkan nasib pada komoditas kerajinan gerabah. Disini anak-anak hingga kakek-nenek bersama berlomba membuat gerabah keramik. Pemda setempat bahkan menjadikan gerabah keramik sebagai simbol atau ikon kejayaan ekonomi mereka.

Dimasa pandemic seperti saat ini, produksi gerabah Plered juga terganjal dalam pemasaran, namun untuk menolong para pengrajin generasi kini mulai memasarkan produksi kerajinan Plered lewat media online sehingga para pengrajin juga mulai tertolong nasibnya.

Perbedaan gerabah keramik Plered dengan kasongan ataupun Pemalang, Brebes dan Tegal,  maupun Cirebon adalah dalam kekuatan produk karena struktur tanah liat yang digunakan. Tapi yang paling penting adalah bentuk dan ragam desain produk. Kerajinan gerabah keramik Plered lebih menspesialisasi diri dalam bentuk ragam vas atau pot bunga. Bentuk-bentuk ini bertahan karena banyaknya permintaan pasar termasuk permintaan dari berbagai negeri 4 musim.

Soal harga, gerabah Plered juga terhitung bersaing. Anda bisa menemukan produk seharga mulai 5 ribu rupiah hingga harga jutaan rupiah per-unit. Yang pasti warga disini bisa makmur dari hasil pembuatan dan penjualan gerabah keramik. Konon mereka belajar membuat dan melestarikan gerabah keramik bukan karena faktor ekonomi semata, tapi juga kesehatan. Menurut sesepuh di wilayah ini, membuat gerabah keramik bisa menghindarkan mereka dari penyakit stroke dan juga pikun.

Lantas, bagaimana kebenarannya??… Gimana kalo kita bareng-bareng belajar membuat gerabah keramik biar tidak cepet tua dan pikun sekaligus mempersiapkan diri untuk bisnis semasa pensiun.

Plered, Purwakarta, Dee, 01092020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment