Pulau Cinta : Sunblock dan Maldives-nya Indonesia

Oleh  Erick Tamalagi

Waktu masih menunjukkan pukul 9 Waktu Indonesia Tengah, saat secara iseng saya mengirimkan beberapa buah hasil jepretan dari handphone ke Pallo, bassist Steven and The Coconut Tree. “Kereeeeeeen. Dimana ini kak ?,” responnya tidak sampai 15 detik setelah foto terkirim. “Pulau Cinta, Gorontalo,” jawab saya. “Woooooooooow, Maldivesnya Indonesia itu,” balasnya lagi.

Pagi itu saya memang berada di Pulau Cinta, sebuah tempat di wilayah administratif Kabupaten Bualemo, Kecamatan Botumoito. Sejak pukul 06.00 pagi. “Kalau mau berangkat, harus pagi sekali, biar tidak kena ombak besar waktu menyeberang,” kata salah seorang rekan, malam sebelum kami memutuskan perjalanan ke Pulau Cinta.

Pulau Cinta berada di Kecamatan Botumoito, satu dari 7 kecamatan di Kabupaten Bualemo. Titik pemberangkatan berada di desa yang punya nama sama dengan Kecamatan, Botumoito. Kurang lebih dua jam perjalanan yang kami tempuh menembus pagi menggunakan kendaraan roda empat, dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam.

Ada dua tempat penyebrangan yang ditandai dengan jembatan menjorok ke laut sejauh kurang lebih 30-an meter, agar moda penyebrangan tidak kandas di pasir. “Ini tempat yang lama, tapi kalau jam begini sudah meti (surut) air, kita ke tempat yang satu lagi,” kata Ibu Letti selaku pemandu rombongan. Kamipun bergeser, tidak lebih 5 menit kami berada diatas mobil, tempat yang dimaksud sudah dijumpai.

Jumlah rombongan kami pagi itu 20 orang, sehingga harus dipecah dalam dua speed. Satu speed maksimal memuat 15 penumpang, sedang speed yang satu kapasitas 6 penumpang. “Meski demikian harganya sama, Rp.350 ribu perorang. Harga itu sudah termasuk angkutan jalan dan kembali serta makan siang nanti,” jelas Ibu Letti. Tidak butuh lama diatas speed, kurang lebih 15 menit kami sudah menginjakkan kaki di dermaga Pulau Cinta.

Sejak masih di laut, landscape Pulau Cinta jelas terlihat, terdiri atas sejumlah cottage yang melingkar mengelilingi daratan berupa pasir putih. Setelah di dermaga, baru jelas jika jembatan kayu papan menjadi media penghubung antar satu cottage dengan cottage lainnya, sementara rumah makan berada ditengah-tengah pulau, berdiri di daratan pasir tertinggi yang tidak akan tergenang oleh air laut ketika pasang.

Saya mencoba menghitung jumlah cottage yang, ternyata jumlahnya 15 buah. Sebagian besar cottage ditandai dengan gambar zodiac, seperti Aries, Taurus, Sagitarius, Leo, dan seterusnya. “Yang satu kamar tidur untuk dua orang ada 12 cottage, dua kamar tidur untuk empat orang satu unit, dan yang paling besar tiga kamar tidur untuk enam orang satu cottage. Untuk menginap dikenakan tarif 2.500.000/malam untuk dua orang, itu sudah termasuk makannya,” kata penjaganya.

Pas lah kalau begitu hitungan saya, 14 cottage buat tamu yang menginap dan satu cottage di dermaga yang menjadi kantor sekaligus reception tempat ini. Setiap cottage punya piringan parabola dari provider ternama, jadi tidak ada masalah dengan koneksi internet. Begitu juga dengan kebutuhan air bersih, karena beberapa kali saya mendapati speed boat membawa air bersih dari daratan.

Dari percakapan singkat pagi itu, saya juga mendapatkan informasi jika ingin menikmati keindahan bawah laut tidak perlu susah-susah, cukup terjun dari cottage yang disewa, maka keindahan bawah laut Teluk Tomini akan segera terhampar. Cukup menyelam 2 – 3 meter saja sudah bsia menikmati keindahan biota laut.  “Sayang saya tidak bermalam disini,” batin saya.

Meski demikian, pemandangan di area Pulau Cinta membuat tidak henti-hentinya kami mengambil gambar. Tiap sudut mempunyai daya tarik untuk diabadikan. Bahkan sejumlah pengunjung dari luar negeri menggunakan drone untuk mengambil gambar di tempat ini. Hanya satu saja yang harus diingat jika datang ke tempat ini : jangan lupa membawa sunblock. “Karena disini cuma ada dua musim : panas dan panaaaaaaaaas sekali.”

Erick/tie/kenariguesthouse

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment