Ranting Ranting Mengering Menyergap Hening Kawah Putih Ciwidey Bandung

Oleh : Reny Sudarmadi

Piknik di era pandemic covid 19  sedikit ribet dengan membawa lebih banyak barang seperti masker, hand sanitizer, disinfektan, peralatan makan tak ketinggalan juga  jaket  untuk melawan dingin.  Tapi okelah dengan senang hati dilakukan karena untuk keamanan diri kita dan juga orang lain. Maka berangkatlah saya bersama teman-teman ke Kawah Putih Ciwidey Bandung dan senangnya di lokasi wisata juga disediakan wastafel dan sabun cuci tangan sesuai protocol kesehatan.

Sabtu sore saat kami tiba di Bandung turun hujan agak lebat, namun tak mengurungkan niat kami untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Kawah Putih yang hanya makan waktu tak sampai satu jam. Berkunjung ke Kawah Putih  di musim hujan ada enaknya juga, meski hawa dingin menggigit tapi  bau belerang tak lagi menyengat. Ini berbeda sekali bila datang di musim kemarau, bau belerang sudah tercium begitu mendekati lokasi.

Karena itu saya dan teman-teman dengan semangat segera turun untuk melihat  kawah lebih dekat meski kabut menyelimuti dan udara dingin semakin terasa. Mei tahun lalu saya sempat memotret Kawah Putih dari atas dan terkesan penuh misteri, mungkin karena kawah diselimuti asap belerang. Sementara tadi saya lihat  penampakan kawah yang indah terkesan tidak ada sesuatu yang gimanaaa gitu. Namun ketika kami sudah di bawah mendekati bibir kawah, terasa suasana yang berbeda, menyergap. Seperti tidak ada kehidupan. Suasana mendadak  terasa hening. Ranting ranting pohon mengering di sekitar kawah semakin mempertebal aura mistis. Kebetulan juga saat itu hanya saya berlima di tepi kawah.

Satu hal yang menarik di kawasan wisata ini disediakan akses khusus untuk warga senior dan mereka yang sakit jantung dan asma. Tempat ini  memudahkan menikmati pemandangan kawah yang  menawan dan spot foto yang menarik.

Kawah Putih bermula dari letusan gunung Pantuha dan sempat dianggap angker oleh penduduk setempat karena setiap kali burung melintas di atasnya, selalu mati. Mitos ini dipatahkan oleh Dr. Franz Wilhelm ahli botani  dan geolog berkebangsaan Belanda – Jerman. Sekitar tahun 1847 Franz Wilhelm melakukan penelitian dan menemukan kawah putih dengan semburan belerang di kawasan yang dibilang angker tersebut.

Kawah yang sebagian besar berwarna putih dengan air berwarna kehijauan  dan bukit yang mengelilingi. terletak di ketinggian 2400 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggiannya tersebut, maka  suhu kawasan ini sejuk saat siang dan menjadi sangat dingin di malam hari. Di siang hari suhu rata-rata 22 derajat celcius, sementara di malam hari bisa mencapai 8 derajat celcius. Warna air danau juga selalu berubah  menyesuaikan dengan kadar belerang serta cuaca dan suhu.

Keunikan dan keindahan  Kawah Putih ini  tak hanya menjadi magnet bagi wisatawan mendatangi kawasan wisata ini tapi juga dimanfaatkan sebagai lokasi shooting dan ajang foto prewedding.

Reny/tie/kenariguesthouse

Tags:
Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment