Ritme Hidup Musik Bambu dari Sangihe Talaud

Penulis : Dewi Suspaningrum

 

Sangihe Talaud, adalah sebuah kepualauan di barat laut pulau Sulawesi Utara, berbatasan dengan pulau Mindanao yang masuk wilayah Filipina. Ibu kota Sangihe Talaud berkedudukan di Tahuna, dimana secara keseluruhan jumlah pulau yang ada di kepulauan ini berjumlah 105 pulau-pulau kecil yang tersebar melingkar, posisinya terletak dari ujung utara Sulawesi hingga ke perbatasan dengan Pulau Mindanao (Republik Filipina).

Musik tradisional yang melegenda dari daerah sangihe Talaud adalah “Musik Bambu”. Musik bambu adalah seperangkat alat musik tiup yang bahan baku seluruhnya terbuat murni dari bambu, dengan spesifikasi yang khusus.

Instrumen melodinya adalah suling kecil, suling besar dan trompet, tetapi ada versi yang menyebutnya sebagai klarinet, tetapi karena klarinet versi SanghieTalaud tidak mengunakan rit layaknya alat musik klarinet dari barat (asal mula) maka sebagian besar pemain menyebutnya trompet. Kemudian di lengkapi dengan instrumen pengiring kecil, yang dinamakan “korno” dengan berbagai jenisnya. Sedangkan pengiring besar dinamakan “bambu tengah atau kontra bas” (sejenis Cello pada musik bambu klarinet dan seng), yang berfungsi sebagai trombone dan bas.

Di sebuah pekarangan rumah di Kampung Likuang, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sekelompok orang terlihat selalu berkumpul memainkan berbagai alat musik orkestra seperti terompet, bas, trombon, suling, klarinet dan sebagainya.

Anggota orkestra itu tak hanya orang-orang tua, beberapa di antaranya  terlihat  anak-anak muda. Terlihat pula beberapa anak-anak kecil dan perempuan muda menari mengikuti irama orkes bambu. Mereka tampak asyik memainkan beragam lagu, mulai dari lagu daerah, hingga lagu rohani, bahkan lagu yang sedang popular saat ini yang dibawakan oleh penyanyi Indonesia maupun lagu barat. Yang menarik dari orkestra itu, yaitu semua alat musik pengiringnya tidak terbuat dari aluminium atau besi seperti pada umumnya alat musik tiup yang biasa kirta saksikan, tetapi semua alat musik itu terbuat dari bambu.

Alat musik bambu sebenarnya alat music yang lazim ditemui di Sangihe, Sulawesi Utara. Alat musik bambu ini sudah ada sejak nenek moyang orang-orang Sangihe. Alat musik bambu di Sangihe awalnya sangat sederhana.  Alat musik ini biasanya dimainkan untuk mengiringi acara-acara penting seperti upacara tradisional, pernikahan, acara ritual keagamaan dan sebagainya.

Alat musik bambu sampai saat ini sudah mengalami tiga perubahan bentuk. Dari hanya suling saja, lalu berkembang menjadi berbagai jenis alat seperti korno, klarinet, trombon, bambu tengah dan bas. Masing-masing alat musik tiup tersebut menghasilkan tangga nada seperti alat musik tiup pada umumnya, sehingga ketika dimainkan muncul harmonisasi indah ketika digabungkan dalam satu ‘tumpukan’, sebutan orang Sangihe untuk merujuk pada grup musik atau ‘orkestra’ bambu ini. Dalam satu tumpukan terdapat 20 sampai 40 orang.

Tak mudah untuk menciptakan alat musik yang mempunyai suara yang enak didengar. Hal ini dimulai dari pemilihan bambu sebagai bahan utama alat musik tersebut. Bambu yang digunakan juga tidak sembarangan biasanya yang dipilih adalah bambu tua.

Dia memilihnya dari bambu tua. Bambu di sekitar tempat tinggal Agustinus di Kampung Likuang, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, juga tumbuh di sekitar pantai. Dia akan menebang bambu tua ketika air surut.

Dalam tradisi masyarakat Sangihe, musik bambu menjadi ikon yang wajib disajikan apalagi jika ada pesta, terlebih lagi pada acara-acara kehormatan atau hajat besar. Bahkan, saat ini masing-masing desa memiliki tumpukan musik bambunya sendiri yang kemudian saling bertanding dengan desa yang lainnya. Salah satunya adalah dalam budaya Masamper.

Pada perhelatan Masamper, grup dari berbagai desa bertanding dalam lagu dan musik. Mereka saling berbalas lirik dan musik. Pemerintah daerah Sangihe sengaja mendorong musik bambu ini sebagai salah satu identitas daerahnya, karena music bambu adalah khasanah musik alam yang unik.

Dari sisi sosial, musik bambu  mampu meredam gejolak-gejolak sosial yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Musik bambu ini mampu menyatukan warga dari berbagai status sosial dan agama yang berbeda. Dengan bermusik bersama, mereka bisa hidup rukun dan saling membantu.

Selain itu, dari sisi konservasi terhadap lingkungan, masyarakat menjadi lebih memberikan apresiasi pada bambu. Mereka cenderung akan memanfaatkan bambu tersebut sesuai kebutuhan karena mengetahui bahwa bambu Sangihe dapat menjadi bahan baku alat musik tradisional mereka sekaligus menjadi asset mereka karena ternyata bambu itu banyak manfaatnya dan sangat memberikan manfaat bagi manusia yang membutuhkannya.

Sangihe Talaud, Dee, 05112020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment