Ruwahan Menjelang Puasa Ramadhan

Oleh : Atie Nitiasmoro

 

10 hari menjelang puasa Ramadhan, masyarakat Jawa selalu menyajikan ketan, kolak dan apem. Kolak dibuat lebih kental dari biasanya, sehingga makin legit dicampur dengan gurihnya ketan dan manisnya apem. Dulu antar tetangga saling berkirim penganan ini dan saat saya kecil bertugas mengantar ke  tetangga sekeliling rumah.

Selain lezat, berbagai makanan ini ternyata sarat akan makna. Kolak, misalnya melambangkan hubungan dalam persaudaraan yang semakin dewasa dan penuh rezeki. Beberapa orang juga menyebutkan bahwa kolak menjadi simbol untuk mengingatkan kita terhadap Khaliq atau Sang Pencipta. Sedangkan kue apem yang bertekstur lengket menjadi simbol saling memaafkan jika ada kesalahan. Ketan yang berarti sebagai “kraketan” atau “ngraketke ikatan”, yang artinya merekatkan ikatan tali silaturahmi. Maka, ketan dapat menjadi simbol eratnya persaudaraan antar sesama manusia (Geertz, 1972).

Ruwah (bulan ke-8 dalam kalender Jawa atau bisa disebut dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah).

Istilah bulan Ruwah berasal dari kata arwah (Geertz, 1998). Pada bulan Ruwah ini masyarakat Jawa meyakini sebagai bulan yang bagus untuk berelasi secara spiritual dengan leluhur. Oleh karena itu, pada bulan tersebut masyarakat Jawa rutin melaksanakan ritual-ritual untuk menyambut bulan puasa. Antara lain ritual bersih kubur, ritual kenduri, ritual ziarah kubur dan berakhir dengan ritual padusan/mandi.  Ritual ini biasanya dijalankan sebulan penuh. Tiap orang atau warga berbeda dalam melaksanakan ritual ini. Tergantung kesiapan dari masing-masing warga. Akan tetapi, terkadang ada juga yang bersamaan. Inti dari ruwahan adalah persiapan lahir batin dan wujud sukacita menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi ruwahan dijalankan untuk mengingat para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal melalui do’a. Apalagi ada keyakinan bahwa, bulan Sya’ban ini merupakan hari raya bagi orang yang sudah meninggal. Jika orang yang masih hidup memiliki hari raya Idul Fitri maka bulan Sya’ban ini adalah hari raya bagi orang yang sudah meninggal. Jadi tidak hanya orang yang masih hidup saja yang memiliki hari raya idul fitri tapi juga orang yang sudah meninggal.

Javanese Islam Research menjelaskan, ruwahan berasal dari tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Jawa. Dahulu  tradisi tersebut mengagungkan roh-roh penunggu punden desa, roh nenek moyang dan para dewa. Kemudian, Walisanga mengakulturasi tradisi ruwahan tersebut dengan membedakan niatnya menjadi semata-mata hanya beribadah karena Allah SWT dalam bentuk ukhuwah, shodaqoh, kenduri atau selametan  dan ziarah kubur (nyadran atau nyekar) serta penghormatan pada orang yang sudah meninggal.

Secara pandangan sosial, ruwahan memberi makna komunalisme sosial yang terbentuk melalui interaksi sosial antar individu. Ruwahan merupakan ritual di dalam ruang publik (public sphere), di mana individu-individu dipertemukan dalam satu kepentingan, yakni tradisi dan agama. Slametan yang disertai pemberian berkat mengandung nilai sosial sedekah yang menjadi semangat filantropi dalam Islam. Saling memberi dan menerima akan sangat terasa dalam tradisi ruwahan ini, meskipun dalam kadar dan frekuensi yang berbeda.

Akhirnya, tradisi ruwahan  ini menjadi sebuah kearifan lokal (local wisdom), bagi masyarakat tertentu memiliki makna kultural-religius yang penting. Setelah berabad-abad lamanya tradisi ini berlangsung, kearifan ini telah menunjukkan substansi ajaran Islam dalam membangun toleransi dan humanisme. Prinsipnya adalah melestarikan tradisi lama yang baik, dan menyerap terhadap hal baru (modernitas) yang lebih baik.

Tradisi ruwahan juga diwarnai dengan berbagai makanan lezat yang wajib hadir untuk melengkapi tradisi tersebut. Selain membagikan kola, apem dan ketan, beberapa orang biasanya juga melakukan sedekah ruwahan secara bersama-sama. Biasanya, setiap keluarga besar akan menyajikan nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, dan dibagikan kepada warga yang datang. Tentunya, bersedekah dengan membagikan makanan tersebut merupakan bentuk amal kebajikan. Sedangkan membersihkan makam leluhur merupakan bentuk perhatian yang menjadi penanda bahwa kita tidak melupakan orang tua dan para leluhur.

AN/kenariguesthouse/05052020

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment