Sarapan Gudek di Perbatasan Malasyia

Oleh Erick Tamalagi

Gudek makanan khas Yogyakarta makin terasa istimewa tatkala kita menikmatinya di Entikong Kalimantan Barat yang merupakan daerah perbatasan dengan Malasyia.

Ayam kampung, sayur nangka muda kering, telur dan …. ditambah gurihnya nasi dalam sepiring Gudeg Pawon Solo, rasanya tidak kalah dengan gudek yang biasa kita santap di yogya atau Solo.

Gurih dan manisnya gudek ini membuat kami lupa  kalau ini adalah sarapan bukan makan siang. Pasalnya, hidangan dalam porsi seperti makan siang dengan cepat kami habiskan karena rasanya yang terus menggoda hingga sendok terakhir.

“Tempat ini salah satu favorit kami untuk sarapan,” ungkap mas Heru dan dokter hewan Yongky teman seperjalanan yang menunjukkan tempat ini. Pawon Solo terletak di jalan utama jalur dua menuju Pos Batas Lintas Negara (PLBN) Entikong. Berada diantara deretan ruko kurang lebih 15 meter dari PLBN Entikong, juga menyajikan  Nasi Pecel, Rawon dan makanan asal Jawa lainnya.

 

Dwi Iska si pemilik warung menjelaskan, ia membuka warungnya sejak Malasyia lock down akibat pandemic covid-1 sejak 16 Maret 2020.

“Sebelum lockdown, rata rata tempat makan yang ramai justru di sebelah. Karena lockdown, saya berani menawarkan makanan khas Indonesia,” kata Dwi Iska istri seorang pegawai kantor Imigrasi  Entikong.

Lock down negeri jiran  menjadi peluang dan berkah bagi warga Entikong membuka bisnis kuliner yang segera mendapat respon positif dengan banyaknya pembeli yang datang. Dwi Iska ibu dua anak ini menjelaskan, warungya sudah buka selama 6 bulan ini atau sebulan setelah Malasyia lock down.

Oh ya selain makanan khas Indonesia, warung ini juga menyediakan milk shake yang laris manis di sore hari. “Sore hari banyak yang gowes di sekitar sini sampai pos sana dan mampir disini untuk minum milk shake,” ungkap Dwi iska ibu dua anak ini.

Sayang kami tidak sempat menikmati milkshake ala Pawon Solo karena sore itu kami justru melakukan patroli perbatasan. Yang pasti, tempat ini sangat recomended setelah melakukan perjalanan darat selama lima jam dari Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat

 

Erick/tie/Kenariguesthouse

 

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment