Saumlaki, Permata Timur Indonesia

Oleh: Dewi Suspaningrum

Indonesia memang sangat kaya, indah dan eksotik. Dalam petualanganku menjelajah negeri tercinta ini, banyak kutemukan surga-surga tersembunyi, alam yang belum terjamah banyak tangan manusia, hingga beragam adat istiadat, seni dan budaya juga bahasa.

Saumlaki adalah salah satu permata Indonesia Timur. Mungkin masih jarang terdengar namanya. Bahkan bagi sebagian orang, nama Saumlaki sepertinya masih asing di telinga. Saumlaki sejatinya merupakan kota yang terletak di jantung Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tepatnya, Saumlaki berada di Pulau Yamdena, yang menjadi bagian dari Kepulauan Tanimbar. Kota ini terletak di kecamatan Tanimbar Selatan, serta memiliki luas sebesar 124,1 kilometer persegi.

Saumlaki juga memiliki posisi sangat strategis, karena terletak di perbatasan antar negara, yaitu Indonesia dan Australia, tepatnya dari bagian utara Australia dengan ibu kota Darwin. Karenanya jarak tempuh dari Australia-Saumlaki jauh lebih dekat dibandingkan jika dari Jakarta ke Saumlaki.

Pulau terluar dari Maluku Tenggara Barat adalah Pulau Astubun, yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste. Dipulau ini, dibangun satu mercusuar setinggi lebih dari 60 meter, yang dijaga oleh sepasang suami-istri. Mereka setia bekerja selama hampir 24 jam setiap hari. Meski tidak digaji oleh pemerintah, namun mereka memberikan baktinya untuk negeri dengan setiap malam memancarkan cahaya lampu mercusuar pada kapal-kapal yang lalu lalang di perairan perbatasan Indonesia-Australia.

Pekerjaan ini akan semakin berat kala hujan dan badai melanda, dimana kapal yang hendak bersandar atau melintasi perairan Indonesia-Australia sangat bergantung pada keahlian suami-istri penjaga dalam mengarahkan lampu mercusuar untuk petunjuk arah. Satu pekerjaan kemanusiaan yang membutuhkan nurani dan keikhlasan yang sangat besar.

Jarak pulau Astubun, sangat dekat dengan Darwin. Dari ujung pantai atau dari atas mercusuar kita bisa melihat gemerlap kota Darwin diwaktu malam. Bahkan jika ditempuh dengan kapal kecil hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Darwin.

Nah… buat anda yang ingin berkunjung ke Saumlaki, bisa memulai penerbangan dari Jakarta, maka otomatis kita harus singgah ke Ambon terlebih dahulu, tepatnya di Bandara Pattimura. Penerbangan berikutnya adalah rute lanjut ke Saumlaki. Tetiba di Saumlaki, kita akan disambut oleh Bandara Mathilda Batlayeri. Dari bandara perjalanan berlanjut ke pusat kota dengan menyewa mobil atau naik taksi seharga kurang lebih sekitar 300-400 ribu rupiah (di luar bensin) per-harinya.

 

Tapi jangan kaget, semua biaya itu akan terbayarkan dengan panorama alam yang indah. Saumlaki memiliki banyak destinasi wisata cantik yang bisa dikunjungi. Pantai menjadi destinasi andalan di kota mungil ini. Ada Pantai Weluan yang berada di desa Olilit, Pantai Sifnana, Pantai Eliasa, Pantai Pertamina, dan masih banyak lagi. Semuanya sangat cantik, indah dan masih murni.

Kita juga bisa melakukan aktivitas menarik, seperti merasakan pengalaman unik jadi petani rumput laut di Desa Lermatang, atau ber- snorkeling-ria menikmati keindahan terumbu karang di Pantai Matakus. Dan yang tak kalah menarik adalah kain tenunnya yang disebut “tais”.

Di Saumlaki sesuai adat setempat, sebagai ketua tim, aku harus bertemu sejumlah kepala suku untuk mendapatkan ijin melakukan peliputan dan meminta restu untuk penjelajahan. Jadilah aku mengikuti upacara pertemuan dengan para kepala adat dengan sajian utama sagu dan minum sopi. Untuk bertemu satu orang kepala adat aku wajib minum segelas sopi.

Sopi adalah minuman khas Indonesia Timur berjenis semacam arak atau sake (Jepang). Jadi saat itu dalam sehari aku harus meminum 7 gelas sopi karena harus bertemu 7 kepala adat. Pusing??…. itu sudah pasti…. Linglung??…. Aku rasanya sudah mau jatuh dan ingin tidur saja. Tapi upacara tidak terhenti sampai disitu. Upacara dilanjutkan dengan kewajiban menari bersama para mace diatas batu menhir yang panas saat matahari di tengah kepala dan tanpa alas kaki… Kebayang kan panasnya !!!! apalagi saat tengah hari.

Tapi setelah ijin dikantongi, perjalanan selama 10 hari di kepulauan Tanimbar ini sangat tidak terasa karena memang sangat menyenangkan. Banyak cerita mulai dari berburu ikan dengan tombak, snorkeling hingga menyelam dan berenang juga belajar memasak dan menikmati makanan laut serba raksasa. Wooww …. semuanya adalah pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Indahnya kota Saumlaki dan pulau-pulau disini cantiknya tiada tara, tidak menyesal menjelajahi pulau ini dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Meski fasilitasnya masih terhitung sederhana. Ini bukan halangan buat kalian yang senang berpetualang. Justru inilah tantangan merasakan destinasi baru.

Namun yang jadi ikon Saumlaki adalah Monumen Kristus Raja yang terletak di ujung timur Yamdena. Patung Yesus Kristus Kekal ini jadi objek wisata yang sangat diminati baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Bentuknya yang amat mirip dengan patung Christ The Redeemer asal Rio de Janeiro, Brazil, atau Christusray di Timor Leste atau patung Kristus Raja di negeri diatas awan di Tanah Toraja, hanya ukurannya lebih kecil.

Nah… Bagaimana?? Berminat mengunjungi Saumlaki??… Selamat menikmati wisata bahari dan jangan pernah melewatkan kulinernya yang lezat,  penuh gizi dan berprotein tinggi.

Saumlaki, Dee, 01092020

End-

Tags:
Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment