SEJUTA KEBAYA UNTUK UNESCO GELORAKAN KEMBALI CINTA BUDAYA INDONESIA

Parade Kebaya Nusantara  mendukung penetapan Hari Kebaya Nasional dan pendaftaran ke Unessco terus berlangsung, kali ini digelar di Bandung. Bertajuk Sejuta Kebaya Untuk Unesco sebagai bukti cinta budaya Indonesia, parade diikuti oleh berbagai komunitas tidak hanya yang berdomisili di Bandung tetapi juga dari Jawa Barat dan Jakarta Minggu 13 November.

 Menariknya  parade yang digagas oleh Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya :{KNIB} Bandung, bertempat di gedung bersejarah yakni Gedung Sate yang memiliki ciri khas berupa ornament tusuk sate pada menara sentralnya. Gedung yang dibangun pada tahun 1920-an ini sekarang difungsikan menjadi kantor Gubernur Jawa Barat.

Parade juga diisi dengan   bincang budaya dan kemudian bersama sama  naik Bandung Tour On Bus {Bandros}  untuk mengunjungi De Majestic gedung bioskop jaman Hindia Belanda yang masih terawat dan kini beralih fungsi menjadi gedung pertemuan.

Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Jabar, Osye Anggandari, menjelaskan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk komitmen dalam rangka sosialisasi Pengajuan Hari Kebaya Nasional dan mendukung pengajuan kebaya ke Unesco.

“Kami mengumpulkan dukungan dari 21 komunitas, lintas profesi yang telah memberikan pernyataan secara simbolis. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa Jawa Barat mendukung penuh Hari Kebaya Nasional dan pendaftaran kebaya ke Unesco” jelas Osye.

Ketua Tim Nasional Hari Kebaya Lana T Koentjoro dalam kesempatan yang sama mengajak semua pihak untuk bersama-sama melestarikan kebaya sebagai warisan budaya leluhur. “Dengan sering menggunakan kebaya dimanapun dan kapanpun, itu salah satu bentuk melestarikan kebaya sebagai identitas bangsa dan sekaligus menggairahkan UMKM yang memproduksi kebaya dan perlengkapannya,” ujar Lana yang juga Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju {PIM}.

Dalam Bincang Budaya, budayawan dan juga penasehat KCBI Heti Sunaryo, menjelaskan aneka bentuk kebaya dan daerah asalnya serta padu padan dengan aneka wastra nusantara. Sementara pengusaha Batik dan juga dosen, Dr H Komarudin  menjelaskan proses dan tehnik pembuatan batik. Komar mengungkapkan, dalam selembar batik tulis memberdayakan setidaknya 7 orang/ tenaga kerja mulai dari design gambar sampai corotan. Sekarang perajin batik sudah bisa bangkit kembali setelah sebelumnya sempat collaps saat pandemic covid lalu. Komar juga memamerkan keindahan  batik karyanya dalam fashion show yang diperagakan oleh para notaris di Bandung.

Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, berpendapat,ada tidaknya  pengakuan UNESCO, bangsa Indonesia berkewajiban menjaga dan melestarikan kebaya sebagai budaya bangsa.

Ineu berpendapat, menilik dari sederhananya bentuk kebaya secara filosofis menunjukkan bahwa perempuan Indonesia orang yang sederhana, pekerja keras, sabar dan mandiri sekaligus inovatif.

“Semoga parade kebaya ini juga mendorong generasi muda untuk percaya diri dan senang menggunakan kebaya, terlebih saat ini banyak corak kebaya, kekinian dan lebih modern sehingga lebih menarik untuk anak-anak muda,” kata Ineu 

Sementara Ketua Cinta Budaya Nusantara {CBN} yang juga anggota Timnas HKN, Melok Besari, mengatakan penetapan Hari Kebaya Nasional mempunyai arti penting terhadap pelestarian kebaya sebagai warisan budaya leluhur. “Dengan adanya hari berkebaya nasional, semakin mengukuhkan pentingnya kebaya dan perempuan di Indonesia lebih sering menggunakan kebaya, karena kita bangga dengan kebaya,” katanya. 

Avatar
atinitiasmoro
atinitiasmoro@yahoo.co.id
No Comments

Post A Comment