Sengkulun Kue Agustusan

Penulis : Dewi Suspaningrum

Berkembangnya zaman, membuat berbagai inovasi baru di industri kuliner terus bermunculan. Banyak sekali produk-produk makanan modern yang kini mulai digemari berbagai elemen masyarakat. Tak terkecuali makanan dan jajanan tradisional Indonesia yang kini semakin terlupakan.

Dimasa Pandemi seperti saat ini, beragam makanan tradisional yang mudah dibuat dengan bahan yang murah menjadi idola para ibu rumah tangga untuk menyajikan makanan yang enak dan lezat buatan sendiri agar hemat untuk keluarga bahkan untuk bahan jualan demi menambah pundi-pundi ekonomi keluarga. Akhirnya makanan atau peganan tradisional kini kembali menjadi idola dan menjadi makanan yang mulai digemari kaum milenial.

Adalah kue sengkulun atau kue awug-awug, yang biasa dibuat oleh banyak warga di kampung-kampung terutama disaat  merayakan agustusan. Biasanya kue sengkulun  menjadi salah satu kebisaan untuk berlomba menyambut kemeriahan hari kemerdekaan. Hal ini karena selain bahan-bahannya mudah di dapat kue sengkulun atau awug-awug mudah dibuat dan disukai banyak kalangan. Tidak heran kue sengkulun dikenal sebagai kue Tujuh Belasan.

Al-kisah rakyat Betawi alias Batavia mengatakan, kue sengkulun lahir pada sekitaran tahun 1513-1514 dan merupakan persembahan kepada raja Pakuan. Tahun 1521 ketika masuknya Portugis dalam wilayah Malaka, masih ada rakyat di wilayah Batavia yang memihak kepada Raja Tanjung Jaya yang menjadi kerajaan Sunda Padjajaran.

Kerajaan ini berada diwilayah pelabuhan Sunda Kelapa dan sekarang dikenal dengan sebutan Jayakarta. Sengkulun hadir karena hulun-hulun yang mengabdi kepada kerajaan sunda kelapa karena bauan-bauannya merupakan simbol kepada keraton Padjajaran. Sengkulun lahir menjadi kue yang dipersembahkan oleh rakyat kepada keraton (Kulun). Sengkulun menjadi kue yang diartikan secara filosofis sebagai symbol kesetiaan dan persembahan kepada raja pakuan. Konon kabarnya nama sengkulun secara filosofis diambil dari pemahaman Sang Kulun (keraton).

Kekayaan alam yang berlimpah dan pola hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pengolahan sumber daya alam, berpengaruh kepada penciptaan citra kuliner Betawi yang kaya rasa dan nutrisi. Mereka mampu menciptakan berbagai resep unik dari bahan-bahan yang tumbuh di lingkungannya. Kuliner Betawi juga mempunyai karakter khusus pada pengolahannya.

Kue sengkulun atau awug-awug kini mulai langka tapi dimasa pandemic ini kue sengkulun kembali bangkit terutama di bulan agustus.  kue sengkulun sejak dahulu dikenal sebagai kudapan dan merupakan kue persembahan bagi orang-orang yang dituakan atau pembesar pada saat perayaan atau hajatan, itu sebabnya kue ini selalu ada disaat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Kue ini memiliki kedudukan yang dipandang tinggi sejak dahulu, Karena hanya dibuat dan diperuntukan kepada orang-orang yang dihormati atau memiliki kedudukan tinggi dalam struktur sosial masyarakat.

Diketahui  kue sengkulun kerap dijumpai saat masyarakat menyelenggarakan tradisi sedekah bumi atau barisan  kue sengkulun akan muncul sebagai sesaji upacara Sedekah Bumi dan tanda terimakasih kepada Dewi Sri yang biasanya diadakan di bulan haji sebagai kue persembahan. Sementara ketika menyambut Idul Fitri dan Idul Adha atau hari kemerdekaan kue Sengkulun menjadi simbol untuk saling merekatkan satu sama lain didalam keluarga hingga seluruh bangsa  sehingga menjadi satu kekuatan dan bersatu dalam persatuan.

Ini ditandai dengan pembagian sajian kepada tetangga atau kerabat dekat hingga  teman dan relasi untuk memperekat keakraban. Jadi kue Sengkulun yang berbahan dasar tepung beras ketan bisa memiliki makna, penyajiannya digunakan untuk merekatkan hubungan baik pasangan suami istri maupun hubungan sanak keluarga hingga pertemanan. Makanya jangan heran jika dalam perayaan hari kemerdekaan RI, kue sengkulun dilombakan untuk mempererat hubungan dan persatuan kekerabatan sebagai keluarga besar bangsa Indonesia.

Nah, berikut ini adalah resep dan bahan untuk membuat Kue Sengkulun atau awug-awug yaitu sbb :

– Tepung Ketan yang baru digiling 500 gr
– Tepung Sagu sebagian (setengah bagian dari tepung ketan) 250 gr
– Kelapa setengah tua diparut untuk untuk campuran dari satu buah kelapa
– Garam secukupnya (satu sendok the)
– Gula Merah diiris-iris secukupnya atau bisa juga gula pasir (agar warna menjadi putih)
– Daun Pandan 2-3 lembar

Cara membuatnya :

  • Tepung ketan dan sagu dicampurkan gula dan air dimasak bersama daun pandan. Sambil diaduk terus diuleni agar tidak bergerindil,
  • Setelah gula dingin dan dicampurkan dengan tepung dan daun pandan lalu diaduk aduk sampai adonan menjadi satu atau encer, kemudian dibagi dua yang satu kemudian diberikan warna merah dan satunya tetap berwarna putih. lalu dimasukan kedalam loyang persegi empat yang telah lebih dahulu dipoles dengan minyak, warna merah  kemudian dikukus sampai kue setengah masak dan tambahkan warna putih madsalk kembali hingga kue betul-betul masak. Jika sudah betul-betul matang kemudian diangkat dan didinginkan , setelah dingin baru dipotong-potong menurut selera.
  • Untuk penyajiannya, setelah adonan dalam loyang mengeras, kemudian dipotong persegi seperti kue pada umumnya. Selanjutnya, potongan kue ditaburi parutan kelapa dan dipercantik dengan hiasan daun pandan. Rasanya gurih, dengan paduan garam dan parutan kelapa. Sengkulun sangat cocok disajikan pada petang hari dengan segelas teh atau kopi.

Silahkan mencoba sekaligus merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka!!!…

Jakarta, Dee, 08082020

End-

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment