Serunya Berburu Rental Sepeda

Penulis:  Diana Rahmat

Gegara pandemi, sepeda mendadak happening luar biasa. Harga sepeda melambung tinggi, mau beli sepeda baru mesti indent berbulan sebelumnya. Brompton bahkan dicari dan didatangkan dari berbagai negara ke Indonesia.

Saya sempat iseng berhitung rupiah ketika di suatu pagi bertemu dengan salah satu teman yang sedang bersepeda dengan 4 anggota keluarganya yang masih kecil kecil. Semua pake sepeda mahal yang ketika googling, total sekitar 300 jutaan lah untuk 5 sepeda yang mereka gunakan pagi itu. Dengan bangga mereka bercerita baru pulang sepedaan ke kaki gunung apalah, lupa namanya. “Blusukan ajrut-ajrutan dong pake seli?”, tanyaku. “Iyaaa.. Seru Di,” jawabnya bersemangat.

Di rumah kami ada 3 sepeda murah yang harus dipakai bergantian ketika berolah raga pagi. Biasanya ibu cuma kebagian gowes tipis ketika bahan buat konten sosmed mulai menipis. Tapi jangan salah, setiap bepergian santai ke luar kota, si Ibuk paling semangat mencari sewaan sepeda. Seperti ketika kami kabur ke Bandung week end pekan lalu.

Bagaimana cara menikmati liburan di tengah kota yang selalu macet? Selain berjalan kaki pagi, sewa sepeda menjadi solusi.

Ketika berjalan kaki menelusuri Alun-Alun Bandung, nemu sederet sepeda biru yg terparkir rapi. Senangnya…. Namun berbeda dengan sepeda sewaan di kota lain yang pernah kami coba, Boseh Bandung masih menggunakan sistem semi manual alias belum menggunakan aplikasi. Transaksi ‘pinjam dan kembali’ sepeda di bike station menggunakan uang elektronik (e-money) yang (sayangnya masih) dimonopoli oleh sebuah bank pemerintah.

“Ibu daptar dulu yah pake ktp untuk beli kartu briji,” kata seorang petugas Boseh ketika kami tanya cara menyewa di Booth Boseh Alun2. 1 kartu dijual 25rb+5rb saldo yang bisa digunakan untuk sewa sepeda 3 jam pertama.

Sewa sepeda dibatasi mulai dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Boleh aja sih kalo sewa 24 jam karena pengembalian sepeda  bisa kapan saja. Tapi jangan kaget kalau mengembalikan sepeda diluar jam kerja, sistemnya error gak bisa baca transaksi, hingga status kita masih meminjam padahal sepeda sudah kembali (seperti kasus kami hehe). Terpaksa mesti cari petugas  standby untuk bantu secara manual.

Di Yogyakarta, sewa sepeda IG@jogja.bike dilakukan melalui aplikasi di hp dimana kami bisa meminjam, mengunci, membuka sepeda dan mengembalikan sepeda melalui aplikasi tersebut. Kalau lagi apes sepeda sewaan kita dicuri orang, tinggal dilihat di aplikasi, langsung dikunci hingga si pencuri tidak bisa menggunakannya.

Sementara di Bandung? “Kita bisa lihat di cctv Kota Bandung mbak.” kata petugas IG@boseh.bike

ketika kami tanya bagaimana kalo sepeda dicuri orang karena kami gak bawa kunci sepeda ketika harus parkir di tempat umum. Oh Well

Saya pernah mencoba sepeda sewaan di Boston dan Philadelphia, USA yang caranya lebih ringkes lagi. Tinggal tap kartu kredit di mesin sewa, unlock, keliling kota lalu kembalikan di Station manapun dan otomatis transaksi selesai. Tagihan akan muncul di kartu kredit kita sesuai tanggal cetak. Seperti di Jogja, IG@ridebluebikes Boston dan IG@rideindego Philly juga menggunakan aplikasi untuk mengontrol keberadaan dan status sewa sepeda. Sepertinya Boseh Bandung juga harus mulai lho…

 

Diana/tie/Kenariguesthouse

Tags:
,
Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment