Sintren, Bidadari Turun dari Kurungan

Oleh: Dewi Suspaningrum

Berbicara soal tradisi dan budaya, Indonesia adalah gudangnya. Faktanya negara kita ini memiliki ragam tradisi berisikan kisah legeda, budaya, seni, tarian dari yang biasa hingga yang fenomenal bahkan berbau mistis seperti Sintren.

Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Kesenian Sintren sebenarnya sangat tersohor di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Subang utara, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan.

Nama ‘Sintren’ dalam tarian ini berasal dari suku kata ‘Si’ yang berarti dia (perempuan) dan ‘tren’ yang merupakan panggilan dari seorang ‘putri’. Tarian Sintren ini berasal dari Pulau Jawa khususnya di wilayah sepanjang pantai utara Jawa. Tarian khas Pantura ini berbeda karena dalam praktiknya tak hanya melibatkan manusia ( sigadis cantik) tapi juga roh-roh halus. Jadi, penari tak hanya bergerak sesuai kemauan atau keinginannya, tapi penari ini  dirasuki oleh roh halus.

Kisah sejarahnya sendiri, Sintren adalah kisah cinta antara Raden Sulandono dan Putri Sulasih yang berasal dari Desa Kalisalak. Raden Sulandono merupakan putra dari Ki Bahurekso, Bupati Kendal dengan Dewi Rantamsari atau dikenal sebagai Dewi Lanjar. Hubungan asmara antara Raden Sulandono dan Sulasih tidak disetujui oleh Ki Bahurekso. Akhirnya Sulasih mengabdikan dirinya menjadi penari sedangkan Raden Sulandono pergi menyepi untuk bertapa brata.

Sang roh ibu dari Raden Sulandono yaitu Dewi Lanjar kemudian mengatur pertemuan antara Raden Sulandono dan Putri Sulasih. Dewi Lanjar kemudian memasukkan roh bidadari pada tubuh Sulasih dan memanggil Raden Sulandono, anaknya yang saat itu sedang bertapa. Raden Sulandono dan Putri Sulasih akhrinya tetap bisa bertemu walaupun hanya di alam gaib, dan hal ini banyak dipercaya masyarakat Pantura hingga saat ini. Sejak saat itu masyarakat yang tinggal disepanjang wilayah Pantura sering menggelar Sintren sebagai hiburan di setiap acara-acara hajatan maupun upacara tradisional.

Konon banyak syarat untuk menggelar Tarian Sintren. Penari Sintren hanya boleh dilakukan oleh seorang gadis yang masih perawan yang diiiringi enam orang pemain gending. Musik yang dimainkan tidak hanya gending saja melainkan alat musik yang berbahan gambyung atau tembikar serta kipas dari bambu sehingga dapat menimbulkan musik yang khas, bahkan kini lebih banyak dipadukan dengan music dangdut khas Pantura.

Unsur-unsur dalam tarian ini memiliki simbol masing-masing. Pertama penari Sintren, yaitu si gadis perawan harus fokus sebagai pemain utamanya. Perlengkapan tarian seperti kurungan besar, sesaji, tali dan kemenyan sebagai doa pemanggil roh bidadari. Gerakan sebagai simbol roh bidadari telah masuk dalam tubuh gadis. Iringan musik tradisional dan tata rias penari disimbolkan bahwa si gadis telah dikendalikan oleh roh bidadari. Pakaian yang dikenakan biasanya menggunakan baju golek berpadu dengan celana cinde.

Awalnya tangan gadis penari ini diikat oleh semua pawang dalam keadaan tidak berdandan. Kemudian, mereka memasukkan gadis itu ke dalam kurungan sempit. Ajaibnya, setelah kurungan bergetar, maka si gadis penari itu keluar dari kurungan sempit tersebut. Setelah itu, si gadis itu tampil dengan penampilan yang berbeda dari keadaan semula, yaitu sudah berdandan cantik dan tidak terikat. Penampilannya sudah berdandan cantik dengan mengenakan kacamata hitam. Ini tanda gadis penari  Sintren siap menari tanpa kendali atau menari dalam keadaan kesurupan karena dikendalikan oleh roh halus.

Sebelum menari, ritual pertama yang dilakukan adalah ritual Dupan yaitu melaksanakan doa bersama agar terlindung dari marabahaya. Seorang pawang yang menyiapkan gadis sebagai penari disebut Paripurna. Empat pemain pendamping lainnya merupakan bagian tugas dari para  Dayang. Tugas para dayang adalah menjaga penari agar tidak jatuh dan memperbaiki setuap penampilannya agar tetap rapid an cantik.

Ketika penonton melemparkan sesuatu (biasanya kain atau selendang) ke arah penari Sintren disebut juga Balangan. Saat terkena balangan, biasanya penari pingsan di tengah-tengah gerakan dan melanjutkannya kembali setelah pawang membacakan mantra. Lalu gerakan terakhir adalah Temohon dimana gadis penari akan mendatangi penonton dan penonton akan memberikan uang atau saweran  sebagai ucapan terima kasih. Uang ini menjadi hak penari sebagai upah telah menari dengan baik didepan semua tamu yang hadir.

Sampai hari ini, tarian Sintren masih disukai warga Pantura dan banyak disuguhkan sebagai hiburan rakyat saat sedang hajatan nikahan, sunatan atau menyambut pahlawan atau keluarga yang baru datang dari jauh sebagai tanda syukur kepada Ilahi.

Cirebon, Dee, 28082020

End-

Tags:
,
Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment