Sumpah Pemuda dan Kebaya Betawi

Oleh Atie Nitiasmoro

Ada yang berbeda dalam peringatan Sumpah Pemuda kali ini di Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Sejumlah perempuan cantik dan energik memakai kebaya dan kain khas Betawi dengan warna cerah dan paduan yang kontras untuk memperingati  Sumpah Pemuda. Bersama  Ikatan Perempuan Pecinta Seni Betawi {12PSB}.

Dengan semangat Sumpah Pemuda, PBI  bersama Ikatan Perempuan Pecinta Seni Betawi {12PSB} sepakat  bekerjasama mengembangkan busana dan budaya Betawi ke kalangan milenial bahkan ke dunia internasional. “Perempuan Berkebaya Indonesia mengajak kaum perempuan dan generasi muda untuk memaknai  92 tahun Soempah Pemoeda, dengan  gerakan kembali mencintai dan memakai kebaya sebagai  busana leluhur Indonesia” ujar dr Ade Nirmala dari PBI

Ade Nirmala pengurus PBI dan juga seorang dokter ini menjelaskan bahwa organisasinya ingin mendalami perjalanan sejarah kebaya di setiap wilayah Indonesia, termasuk Betawi. Untuk itulah kerjasama ini dilakukan agar dapat menggali dan terus  mengembangkan kebaya sebagai busana tradisional Perempuan Indonesia yang tak lekang dimakan jaman. “Kami ingin kebaya tetap menjadi busana sehari-hari perempuan Indonesia di setiap kesempatan dan berbagai aktivitas.

“Memakai kebaya Betawi dalam kegiatan sehari-hari sangat menyenangkan dan warna-warna cerahnya memberi energy dan spirit saya dalam berkarya,” Imbuh Yanti yang berprofesi sebagai arsitek dan selalu berkebaya di setiap aktivitasnya.

Betawi tidak hanya kulinernya yang menggugah selera seperti Nasi Uduk, Kue Rangi, Ketoprak, Soto Betawi dan es Selendang Mayang yang menjadi menu santapan para pegiat kebaya dalam pertemuan tadi, tapi juga busananya. Salah satunya  kebaya Betawi yang cerah dipadankan dengan kain batik Betawi yang juga berwarna cerah.

Kebaya Betawi mirip dengan kebaya Kartini  hanya bentuknya A-line dikenal dengan nama Kebaya Encim dengan bordir yang menawan. Selain itu kebaya Betawi yang polos  dibagian tangan ada manset dan ada tambahan kutang didalamnya yang sekarang dikenal dengan nama Kutang Nenek. Ini karena  jaman dulu belum mengenal bra sehingga mereka pakai kutang yang diberi bordir atau sulaman  d ipinggirannya sebagai pemanis.  Kutang digunakan dengan kebaya encim polos bahan sifon dipadu dengan kain khas Betawi warna cerah.

Padu padan warna cerah dan kontras menjadi ciri khas yang sangat kuat pada kebaya Betawi, seperti kebaya merah pakai kerudung kuning dan kainnya berwarna hijau. Kebaya Betawi ini menjadi pakaian wajib dalam Pemilihan Abang & None Jakarta. Setiap kali None bertugas di berbagai aktivitasnya, kebaya ini menjadi pakaian resminya.

Atie@kenariguesthouse

Atie Nitiasmoro
Atie Nitiasmoro
atie@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment