Tari Ronggeng Blantek, Penyemangat Jiwa Menjalani Hidup

Penulis : Dewi Suspaningrum

Gerak gemulai sarat mengayun dalam hentakan rampak kaki dan tangan

Senyum mengembang sembari memainkan selendang

Berayun-ayun dalam gelengan kepala menyiratkan wajah genit nan manja

Terangkum indah dalam gembrakan musik kecrek dan debur timplukan gendang

Inilah Ronggeng Blantek yang membuat banyak hati tertawan …..

Tari Ronggeng Blantek sebenarnya tergolong tari kreasi baru yang merupakan tari pembuka dalam pertunjukan seni tradisional Topeng Blantek, salah satu teater rakyat yang banyak dipentaskan untuk menghibur para tuan tanah semasa kolonial.

Pertunjukan Topeng Blantek selalu dibuka dengan sebuah tarian yang dikenal dengan nama Blantek atau Ronggeng Blantek. Dalam perkembangannya tarian ini kemudian menjadi tarian lepas, tersendiri dan terpisah dari kesatuan pertunjukan Topeng Blantek. Namun sampai hari ini tarian ini ternyata sangat diminati oleh masyarakat sebagai sebuah tari pertunjukan yang memanaskan semangat dan suasana hati agar bungah dan riang.

Penamaan Blantek awalnya berasal dari peralatan musik pengiring pertunjukan Topeng Blantek itu sendiri yang terdiri dari rebana biang – terdengar blang, blang, blang – dan kecrek – berbunyi tek-tek – serta digebrak dengan gendang.

Dalam catatan sejarah, tari Ronggeng Blantek diciptakan oleh Wiwiek Widiyastuti, Wara Selly, dan Joko Sukosadono, atas permintaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta sekitar tahun 1978. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh 4 hingga 6 orang perempuan muda dengan mengenakan pakaian berwarna serba cerah.

Gerakan tari Ronggeng Blantek awalnya perlahan tetapi kemudian berubah menjadi sangat cepat dan energik, dinamis namun tetap luwes dalam ayunan tangan dan kaki serta gelengan kepala. Tari Ronggeng Blantek terbagi dalam tiga bagian yaitu :

(1) MANIS : Dimana seorang penari bergerak dengan lemah gemulai dalam ritme tarian yang santai.

(2) CEPAT : Dimana gerakan penari tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat, enerjik, dan dinamis

(3) KLIMAKS :  Yaitu munculnya unsur-unsur gerakan silat dalam tarian yang dibawakan dengan luwes oleh para penari.

Tarian Ronggeng Blantek sebenarnya terdiri dari 31 gerakan dengan urutan sebagai berikut: lenggang rongeh, ogek, selancar ngepik atas, selancar ronggeng, pakblang, selancar pakblang, ngepak blonter, tepak ngaronjeng, kepak dua tangan mundur, koma gelong, goyang cendol ijo, koma gelong, kewer kanan, koma gleong, klewer dua tangan, koma gleong, kewer satu variasi, jingke tepak blonter, gibang ronggeng, gonjingan satu, gonjingan dua, gonjingan blonter, tepak soder, gibang silat, dorong bambu, silat tangkis sejajar, silat tangkis rempak, gibang ronggeng, dorong bambu, gitek pose, dan jingke angklek.

Tari Ronggeng Blantek kerap dipentaskan di berbagai acara kebudayaan betawi. Jika dahulu tari Ronggeng Blantek dipentaskan sebagai pembuka pertunjukan Topeng Blantek, kini tarian tersebut justru menjadi pelengkap dalam pertunjukan Jipeng atau pelengkap pertunjukkan seni betawi lainnya. Selain itu, tari Ronggeng Blantek juga dipentaskan di berbagai acara kebudayaan Betawi, dan kerap digunakan sebagai penyambut tamu yang dianggap agung.

Dalam perkembangannnya tari Ronggeng Blantek semakin disukai masyarakat Betawi karena mencerminkan semangat jiwa yang menggelegar dalam menjalani hidup. Tarian ini juga menggambarkan ketangkasan dan ketrengginasan gadis-gadis betawi yang rancak dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman di gemerlapnya kota metropolitan. Tidak heran saat menyaksikan tarian ini, rasa semangat juga muncul membara, ingin beringsut menggikuti irama rebana juga gendang.

Musik pengiring tari Ronggeng Blantek adalah gamelan topeng yang terdiri dari rebab, seperangkat gendang (gendang besar dan kulanter), ancak kenong tiga pencon, kecrek, kempul yang digantung pada sebuah gawangan, dan sebuah gong tahang atau gong angkong.

Sementara busana yang dikenakan berupa kebaya ronggeng blantek berwarna merah muda (pink), atau kuning maupun hijau terang, dengan kain tumpal putih dengan motif burung hong, toka-toka silang ronggeng berwarna merah, ampok, serbet, dan selendang ronggeng bermotif burung hong. Perlengkapan lainnya berupa mahkota kembang topeng berumbai, kalung bunga teratai bersusun tiga, pending, dan anting berumbai.

Tari Ronggeng Blantek yang seluruh penarinya adalah perempuan, sempat diragukan oleh sebagian kelompok yang kurang menghendaki kegiatan menari dilakukan oleh perempuan. Masyarakat betawi yang kesehariannya lekat dengan kegiatan agamis mempunyai rambu-rambu ketat terkait penari perempuan. Oleh sebab itu saat menciptakan tarian ini Wiwik Widiyastuti memperhatikan detail gerak, busana, dan komposisi musik agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islami yang menjadi marwah budaya Betawi.

Sejak mendapatkan respon positif dari masyarakat, pihak Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan Wiwik Widiyastuti selaku penata tari, membawa tari Ronggeng Blantek ke berbagai festival baik tingkat daerah, nasional, hingga mancanegara. Tahun 1987 tari Ronggeng Blantek mendapat penghargaan Tempio de Oro dan menjadi juara dalam International Folklore di Sicilia, Italia yang diikuti oleh 35 negara. Suatu prestasi yang gemilang dalam membawa nama baik kota Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia.

Jakarta, Dee, 02122020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment