Wayang Beber, Wayang Berfalsafah Pancasila

Oleh: Dewi Suspaningrum

Bagi sebagian kalangan mengganggap, wayang beber adalah jenis wayang yang paling tua di nusantara. Dalam sejarahnya wayang beber berkembang pesat terutama di pulau Jawa pada masa pra-Islam. Wayang beber dulunya dilukis atau digambar pada helaian-helaian daun atau serat kayu tipis sejenis papyrus (Mesir), tapi sesuai perkembangannya dizaman kini wayang beber banyak dilukis diatas kertas atau lembaran kain bahkan kain sutera yang halus.

Kini wayang beber menjadi salah satu tradisi warisan yang hampir punah, karena semakin berkurangnya minat generasi penerus untuk mempelajari dan melestarikan keberadaan wayang beber. Wayang beber merupakan suatu pertunjukan kesenian tradisional yang sangat sakral. Sehingga kesenian wayang beber sudah mulai jarang dan langka di gelar sebagai pertunjukan rakyat kebanyakan.

Sebuah pagelaran wayang beber merupakan suatu kesatuan yang sangat erat hubungannya, dengan segi seni musiknya, seni dramanya dan seni tari pergerakan gulungan ceritanya hingga seni bertutur dalam menceritakan kisahnya. Dari segi seni rupanya yaitu gambaran cerita wayangnya, semua itu menjadi suatu kesatuan juga dalam pagelaran pertunjukan wayang beber. Filosofi urutan ritual pertunjukan wayang beber juga sangat erat dengan hubungan dari sila-sila pancasila yang diterjemahkan dalam tuntunan kehidupan bermasyarakat dalam keseharian.

Kesenian wayang beber mempunyai filosofi yang sama dengan hubungan segitiga bipiramidal sila Pancasila dimana sila Ketuhanan sebagai puncak dari semua sila yang ada, karena hakikat hidup manusia di dunia ini ada dua yakni hubungan manusia dengan Sang Pencipta yakni Tuhan Yang Maha Esa dan hubungan manusia dengan manusia, setelah hubungan manusia dengan Tuhan terpenuhi maka manusia akan berhubungan dengan sesamanya yang tercermin dalam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jika antar manusia sudah terjalin hubungan sosial maka akan tercipta suatu Persatuan Indonesia yang terdapat pada sila ke tiga dari Pancasila.

Dengan demikian sebagai warga negara Indonesia kita harus senantiasa melestarikan kebudayaan dan kesenian asli Indonesia, terutama wayang beber karena di setiap kesenian asli Indonesia banyak mengandung nilai-nilai Pancasila, dengan kita melestarikan kesenian asli Indonesia otomatis berarti kita ikut mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian kita.

Adalah Hermin Istiariningsih yang merupakan seorang ibu rumah tangga, yang gemar melukis. Kini lebih dari 30 tahun mbah Ning memilih berprofesi sebagai pelukis wayang beber. Diakui mbah Ningsih (begitu beliau biasa disapa oleh murid dan mahasiswanya) bahwa saat ini wayang beber yang terbilang unik ini kurang populer sebagaimana wayang kulit atau wayang golek. Tidak heran generasi kini kurang berminat untuk mempelajari lukisan wayang beber apalagi memainkan wayang beber karena cukup rumit.

Untuk itu, menurut mbah Ning,  perlu edukasi sejak dini sebagai bentuk ulang pengenalan wayang beber dengan tampilan yang lebih canggih dan mengikuti selera khas milenial agar wayang beber bisa diterima dan dikenal kalangan muda.

Menurut mbah Ning, meski sudah ada sejak abad ke-12, wayang beber adalah wayang tertua dibanding wayang kulit atau wayang potehi. Wayang beber merupakan cerita wayang dalam bentuk lukisan, dahulu digambar di atas kulit kayu khusus yang pada tiap ujungnya diberi tongkat kayu untuk membuka atau menggulung. Untuk mementaskannya, sang dalang akan membuka atau membeber gulungan itu dan menancapkan tongkat kayu pada tempat yang disediakan. Dalang, dengan diiringi gamelan, akan menceritakan kisah yang dilukis dengan menunjuk satu per satu tokoh menggunakan tongkat kayu kecil.

Wayang beber biasanya mengangkat cerita atau kisah pernikahan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang merupakan salah satu episode cerita Panji, yang populer disebut lakon Jaka Kembang Kuning. Namun kini sesuai perkembangan zaman mulai muncul wayang beber kontemporer yang versinya dibuat oleh Dani Iswardana-lah yang mencetuskan dan mementaskannya pada 2005.

Alih-alih bercerita tentang Panji atau Remeng Mangunjaya, Dani memilih mengambil kisah kehidupan saat ini dengan memasukkan unsur kritik sosial. Selain Dani, Komunitas Wayang Beber Metropolitan juga mementaskannya dengan menyoal kehidupan di Jakarta lengkap dengan isu masyarakat perkotaan dan solusi yang ditawarkan. Kini lewat acara Festival Panji Nusantara yang digelar tiap tahun, wayang beber mulai mendapat tempat untuk dipentaskan dan ditonton khalayak umum terutama untuk kalangan anak muda. Cerita yang kekinian membuat kisah wayang beber tidak stack, dan mudah dimainkan oleh penerusnya demi eksistensi wayang beber meski harus mendobrak pakem konvensionalnya.

Jakarta, Dee, 09092020

End-

Tags:
,
Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment