Wayang Golek Tradisi Pembelajaran Hidup Manusia

Oleh: Dewi Suspaningrum

Selama berabad-abad budaya wayang berkembang di nusantara menjadi beragam jenis. Kebanyakan pada awalnya wayang menggunakan kisah Mahabarata atau Ramayana sebagai induk cerita. Bahkan saat Islam masuk ke tanah Jawa, para walisongo mengenalkan agama Islam juga lewat pertunjukkan wayang. Sedangkan alat peraga wayang itu sendiri bisa terbuat dari kayu yang kini dikenal dengan nama wayang golek, atau kulit  yang dikenal dengan sebutan wayang kulit juga kain yang ditengarai sebagai wayang beber maupun wayang orang yang langsung diperagakan dan dimainkan oleh manusia.

Wayang adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer di nusantara. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan ”bayang”, karena dilihat dari pertunjukan wayang yang memakai layar, dari sisi yang berlawanan sehingga muncul bayang-bayang.

Adalah wayang golek biasanya disuguhkan untuk upacara keagamaan maupun untuk hiburan. Dalang dalam setiap aksinya selalu dilengkapi gamelan dan sinden yang berlanggam (bernyanyi) dengan menggunakan bahasa sunda.

Wayang golek sebenarnya merupakan kesenian populer masyarakat Pasundan yang kental akan nilai-nilai kebudayaan yaitu berupa pertunjukan boneka tiruan menyerupai manusia yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggabungkan beberapa unsur seni. Unsur-unsur seni dalam Wayang Golek itu yang menjadi daya tarik masyarakat, seperti seni suara, seni peran, seni musik, seni sastra, seni tutur, seni lukis, seni pahat serta perlambang.  Wayang golek sebagai suatu kesenian juga mengandung nilai estetika serta keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya.

Makna dan nilai-nilai yang terdapat dalam pertunjukan wayang golek bukan hanya sekedar sebuah bentuk tontonan rakyat, tapi lebih pada isi pertunjukkan yang mengajarkan ketradisiannya. Pertunjukan wayang golek selama ini masih didudukkan tidak sekadar seni yang menghibur penontonnya, akan tetapi lebih dari itu, pertunjukan wayang golek mampu memberikan makna dan nilai bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya.

Dipahami sebagai sebuah bentuk tontonan, tuntunan, dan tatanan, pertunjukan wayang tidak hanya didudukkan sebagai seni tetapi juga sebagai seni yang bersrata adhi-luhung. Salah satu ciri keadhi-luhungannya tersebut yaitu memiliki muatan-muatan nilai filosofi kehidupan yang meliputi nilai moral, norma religi, etika, dan estetika.

Nilai-nilai tersebut dapat dijumpai dalam isi lakon atau cerita yang disajikan oleh dalang, melalui pembendaharaan bentuk garap antawacana (dialog wayang) sesuai dengan tokoh dan karakter wayangnya. Dapat disimpulkan bahwa, sebuah pertunjukan wayang golek bisa menjadi sebuah pedoman tentang realitas nilai kehidupan sebagai inspirasi pendidikan budi pekerti bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Atau gampangnya pertunjukkan wayang golek sangat sarat nasehat atau pembelajaran hidup manusia di dunia.

Tanah Pasundan yang beribu kota Bandung yang terkenal dengan pusat kerajinan juga punya gallery yang membuat beragam tokoh pewayangan> gallery ini bisa ditemukan  di jalan H. Akbar No.10 Kebon Kawung Bandung. Cupumanik Wayang Golek & Handycraft merupakan gallery yang menyediakan beragam handycraft tokoh pewayangan mulai dari ukuran kecil 15 cm  hingga ukuran besar setinggi  2 meter. Wayang- wayang Cupumanik pada umumnya dibuat sebagai buah tangan yang telah dikemas cantik dalam sebuah tabung transparan.

Adalah Shanti Shondari yang merupakan generasi ke-3 dalam meneruskan usaha bisnis wayang golek sang kakek dan ayahnya. Sejak tahun 80-an mantan penyiar radio ini mencoba menggeluti seni sekaligus peluang bisnis tanah pasundan ini. Kini Shanti justru mencintai pembuatan wayang golek dan bertekad untuk melestarikannya sebagai aset bumi Parahiyangan.

Menurut Shanti Sondari, sejarah bedirinya galery Cupumanik sebenarnya sudah dimulai oleh kakeknya yang memang terkenal suka mendalang dan menyukai pertunjukkan wayang golek. Namun baru betul-betul didirikan sebagai galery pada dari tahun 1980 yang dirintis oleh ayahnya, H. Heri Hermawan, merupakan jebolan Seni Rupa ITB yang belajar memahat sendiri, hingga usahanya diteruskan secara turun temurun. Sekitar 40 karyawan yang telah bekerja selama hampir 30 tahun secara terampil melakukan proses finishing dari pengecetan hingga pengemasan. Sedangkan pemahatan wayang dilakukan oleh perajin Purwakarta. Keberadaan Cupumanik Gallery di Bandung menjadi aset besar wisata budaya kota Bandung. Banyak turis yang kerap membeli cinderamata Cupumanik untuk dijadikan oleh-oleh.

Bandung, Dee, 01082020

End-

Tags:
Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment