Wayang Kulit Ajaran Hidup Bagi Manusia

Penulis : Dewi Suspaningrum

 

Wayang kulit salah satu kesenian tradisional jawa yang paling terkenal dan paling tua di nusantara. Ditinjau dari sejarah yang ada, asal usul wayang dianggap telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang kulit lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa di masa silam. Awalnya wayang kulit dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa.

Saat ini wayang kulit bukan hanya sebagai tontonan yang menarik, tapi wayang kulit juga menyimpan makna yang begitu dalam, sehingga kita bisa memetik pelajaran ataupun tuntunannya dari pentas pertunjukkan wayang kulit.  Adapun pedoman dan falsafahnya bisa ditelaah mulai dari bagian-bagian berikut :

DALANG
Dalang, dalam pagelaran wayang kulit adalah dalang yang mengatur jalannya sebuah cerita atau lakon. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa mainkan. Dalang di ibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, serta kelakuan dari tokoh kehidupan (makhluk). Secara bahasa kata “dalang” merupakan pengalihan dari bahasa Arab yaitu “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut.

BEBER ATAU LAYAR PUTIH
Beber adalah penggambaran dari bumi yang pada awal penciptaanya masih suci sebelum dihuni oleh makhluk apa-pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki bumi, maka bumi secara perlahan akan tercemari oleh kelakuan dan watak dari makhluk itu sendiri. Itulah yang akan menjadikan penilaian bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan kembali putih . Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk apapun yang ada di bumi ini akan diluluh lantakkan dari atas bumi ini sehingga hati manusia juga akan kembali putih seperti sedia kala.

KELIR (BATANG POHON PISANG)
Kelir ibarat sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa adanya wayang yang ditancapkan. Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang sudah tidak di pentaskan, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah. Makna filosofinya adalah : Raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap.namun ketika raga sudah tidak ada jiwanya, maka seakan raga sudah tidak lagi berguna bentuk wayang sangatlah beragam. Ada yang bagus, menyeramkan, dan ada juga yang lucu.

Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang. Sisi pandang tersebut adalah:

Pertama  : wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka.

Kedua      : wayang yang aslinya tetap dipegang oleh dalang.

Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua sisi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk lain dan ada juga yang tidak (sirri), namun pada intinya selalu digenggam oleh sang dalangnya.

BLENCONG (LAMPU PENERANG DEPAN LAYAR)
Blencong ibarat sebuah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa adanya blencong, wayang pun tidak bisa dimainkan sekalipun wayang sudah menancap di atas kelir. Ini pengibaratan dari jiwa dan raga dari makhluk, bahwa makhluk takkan bisa hidup tanpa adanya cahaya, Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milik sang maha pencipta (Allah SWT).

PETHI (KOTAK KAYU)
Pethi atau Peti dalam wayang berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati atau di gunakan. Peti ibarat sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati dan tidak dimainkan. Walaupun hidup seperti apa pun , pada akhirnya tokoh akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap.

Pulau Jawa adalah sentra utama tempat pertunjukkan wayang kulit, satu kesenian wayang yang tertua dan mulai di kenalkan pertama kali di tanah Jawa dan memuncak selaras dengan masuknya ajaran Islam di babad tanah Jawa.

Di wilayah Bantul, Yogyakarta. Nama pengrajin wayang kulit SAGIO sudah sangat dikenal. Di tempat workshop sekaligus rumahnya Sagio membuka kesempatan bagi pengunjung yang ingin mendalami pembuatan wayang berikut falsafahnya.

Selama lebih dari 30 tahun Sagio mendalami pembuatan dan karakter serta falsafah wayang kulit. Sagio mendapat ilmu secara turun temurun dari sang ayah dan gurunya yang berasal dari keraton yogyakarta. Kini selain membuka lapangan kerja bagi warga Kasihan Bantul untuk membuat wayang kulit, Sagio juga mendedikasikan diri untuk melestarikan eksistensi wayang kulit.

Sayangnya masalah krisis global dan ketersediaan bahan baku menjadi kendala berat bagi Sagio yang kini mulai mengurangi karyawannya karena tidak sanggup lagi memproduksi massal wayang kulit. Sagio Berharap, meski zaman kian uzur dan terimbas moderinasi, wayang kulit tetap mampu bertahan sebagai tradisi kuno yang menyiarkan falsafah hidup dan ajaran hidup bagi manusia dan menjaga hubungan dengan sesamanya.

Yogyakarta, Dee, 28092020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment