Kampung Solor di Masa Pandemi

Penulis : Dewi Suspaningrum

Rasanya tidak sah kalau berkunjung ke Kupang, NTT tanpa menikmati sajian kuliner laut khas “Kampung Solor”.

Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang memang terkenal dengan hasil laut, selalu siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke kota ini dengan keindahan pantai berikut kuliner hasil lautnya.

Tidak heran ketika menyusuri jalanan kota di Kupang, hasrat menyantap makanan laut terlezat selalu menggebu-gebu. Kebayang-kan ikan segar atau cumi bakar dengan sambal manta atau sambal dabu-dabu menjadi sajian utama makan malam kita.

Di Kupang, kampung Solor selalu menjadi rujukan atau rekomendasi utama saat wisatawan singgah di kota sebelah timur Indonesia ini. Kampung ini meski masuk wilayah kota, tapi merupakan kampung pesisir yang dipenuhi nelayan dan para pedagang makanan laut.

Tidak heran, kampung ini bukan hanya didominasi oleh warga Kupang saja, tapi banyak juga pendatang dari Lamongan, Surabaya bahkan pulau Madura.

Berbagai jenis ikan laut, cumi, udang, kerang dan makanan laut lainnya dibandrol dengan harga ribuan hingga puluhan ribu rupiah.

Sembari merasakan hembusan angin pantai, makan di Kampung Solor bisa membuat siapa saja lahap bahkan kalap karena nikmat. Rasanya satu ekor ikan atau seporsi cumi belum cukup memuaskan selera, apalagi jika bersantap ramai-ramai dengan kawan sejawat.

Beragam jenis dan ukuran ikan semua tinggal dipilih, cuminya besar-besar bahkan bisa sepanjang lengan orang dewasa. Jangan tanya udangnya, dijamin puas memilah mulai dari yang mungil hingga sebesar telapak tangan orang dewasa. Apalagi kerangnya yang beraneka rupa. Semua dijajarkan, dipajang di meja sepanjang jalan pasar agar menarik minat konsumen untuk bertandang.

Kita tinggal memilih, menimbang, menawar harga dan sepakat langsung dimasak oleh si-penjual dengan pilihan digoreng atau dibakar maupun kerang rebus dengan pendukung sayuran seperti tumis kangkung, tauge, maupun kubis atau lalapan.

Adalah Adi, seorang bapak paruh baya, yang setiap sore membuka lapaknya bersama istri dan seorang anak gadisnya yang cantik.

Adi yang sebenarnya berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Adi mengaku telah sepuluh tahun berjualan di pasar kuliner Kampung Solor.

Menurut Adi l, dia merantau dan menetap di Kupang sejak usia muda. Saat datang ke Kupang, dia bekerja serabutan mulai dari tukang parkir, tukang bangunan hingga kemudian menjadi nelayan dan kini berdagang kuliner. Bahkan Adi kemudian berjodoh dengan gadis asli pulau pesisir ini.

Sebelum pandemi, dalam semalam dirinya bisa menjual puluhan ekor ikan dan puluhan kilo udang ataupun cumi juga kerang. Apes-apesnya dalam sehari bisa membawa uang keuntungan sebanyak 400-500 ribu rupiah untuk keluarganya.

Kini selama pandemi, larangan berjualan dipersingkat dengan prokes ketat. Akhirnya pendapatannya turun drastis karena tak banyak lagi banyak turis yang datang dan makan disini.

Dimasa pandemi konsumen yang datang rata-rata adalah warga sekitaran kota Kupang. Itupun sedikit sekali yang belanja, karena saat ini banyak orang berhemat karena hidup sedang susah.

Pandemi memang meluluh-lantakkan semua segi ekonomi masyarakat tak terkecuali kampung Solor. Dampaknya jelas, pasar yang dulu selalu ramai dari sore hingga menjelang pagi kini sunyi. Hanya beberapa penjaja dan pembeli yang masih bertahan untuk membeli hasil laut, itupun tidak makan ditempat tapi langsung dibawa pulang.

Kini dengan tandasnya sajian ikan dan cumi diatas piring menandakan saya dan kawan-kawan harus bergegas pulang, karena pasar ini tidak lagi buka hingga larut atau dinihari seperti waktu-waktu sebelumnya. Sebagaimana aturan protokol yang ditetapkan pemerintah, pasar ini harus tutup ketika waktu menunjukkan pukul 21:00 WITA.

Semoga pandemi covid-19 cepat berlalu, sehingga kota Kupang tak lagi sepi pengunjung dan “Kota Sasando” bisa kembali hidup dan beraktivitas normal dan ekonomi wilayah pesisir ini terus berputar melanjutkan kehidupan.

Kupang, NTT, Dee,11122020

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment