Nasi Pecel Khas Kebumen

Penulis : Dewi Suspaningrum

Buat saya pulang kampung ke Kebumen rasanya belum sah, kalau belum menikmati nasi pecel “Ibu Anna”, mencicipi sate laler “Pak Mio” atau “Pak Kasman”, sate bebek “Pak Encus” Tambak, bakso “Goyang Lidah” Kebumen, juga daging terik “Warung Asli” Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah.

Warung terbuka atau bisa disebut angkringan bu Anna terletak tepat di depan Toko Elektronik, Jl. Pahlawan No.55 kota Kebumen, Jawa Tengah.

Bu Anna sudah berjualan sejak tahun 1990-an. Bu Anna senantiasa membuka lapaknya sejak pukul 07:00 WIB hingga paling telat pukul 12:00 WIB atau sehabisnya dagangannya. Kini ibu Anna berjualan dibantu anak menantunya dari anaknya yang kedua.

Meskipun menyediakan beragam varian makanan seperti Gudeg Krecek, Krengsengan, namun menu yang paling saya sukai dari angkringan bu Anna, adalah nasi pecel dengan sayuran lengkap seperti potongan kecipir, sayur bayam, kangkung, kacang panjang, tauge, kembang turi ditambah irisan kecombrang dan daun cokra-cikri atau daun kenikir.

Bumbu pecel andalannya adalah kacang tanah yang digoreng garing dan diulek manual alias dengan tangan bukan pakai mesin, sehingga masih terasa gerundul-gerundul-nya dengan rempah-rempah seperti kencur, bawang putih, jeruk limau, daun jeruk, asam jawa.

Saat disajikan ditaburi bawang goreng yang melimpah. Hem… Harum dan sangat menggugah selera dan sudah pasti bikin perut makin bernyanyi keroncong.

Tidak heran bumbu pecel buatan bu Anna selalu laris manis termasuk buat buah tangan alias oleh-oleh ketika mau balik ke tanah perantauan.

Biasanya sudah banyak yang mendaftar untuk pesan, namun karena buatnya home-made dan manual jadi harus rela antri. Untuk itu saran saya, begitu kita sampai di kota Kebumen, sebaiknya langsung pesan, dan saat pulang pesanan sudah siap, tinggal diambil dan langsung balik Jakarta atau daerah lainnya. Harganya persetengah kilogram Rp. 35.000 dibungkus dalam toples transparan.

Ketika pandemi melanda sejak setahun lalu, bu Anna mengaku terkena imbasnya. Karena banyak yang tidak bisa pulkam, maka pesanan bumbu pecelnya otomatis juga berkurang drastis.

Bu Anna belum bisa memasarkan pesanannya lewat on-line karena selain belum tahu caranya, ia juga takut tidak bisa memenuhi pesanan konsumen, karena yang mengerjakan dan yang memasak hanya dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun.

Tahun ini bu Anna berharap, banyak yang bisa pulkam sehingga jualannya bisa laris kembali. Tapi kenyataannya malah PPKM Darurat jadinya jualannya juga hanya bisa dibungkus dan dibawa pulang. Tidak ada pelayanan makan ditempat.

Dari menjual pecel, bu Anna sudah mengantarkan dua anaknya menjadi orang sukses. Anak pertama menjadi tentara di Wangon dan anak kedua menjadi seorang ASN di kabupaten Kebumen.

Tapi meskipun anaknya sudah berjaya, bu Anna tetap berjualan, Ia tidak mau mengandalkan uang pemberian anak-anaknya yang sudah terhitung mapan. Bu Anna tidak mau bergantung kepada orang lain, termasuk pada kedua anaknya.

Kenyataannya warung angkringan bu Anna setiap hari memang selalu laris dan senantiasa ditunggu pelanggannya. Banyak sudah pelanggannya yang setia membeli, meski harus datang baik motor atau mobil dari Kutowinangun, Sruweng, Karan Anyar bahkan Gombong.

Menurut salah satu pelanggannya Endah dari Prembun, dirinya rela ke kota Kebumen hanya untuk membeli bumbu pecel Bu Anna, karena sudah langganan dan berbeda dari yang lain. Agar tidak bolak-balik Endah selalu membeli 2 atau 3 toples bumbu pecal sebagai cadangan, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini Endah perlu stock makanan bagi keluarganya.

Semoga pandemi segera berlalu dan orang-orang seperti bu Anna bisa kembali berdagang dengan tenang dan kembali menghidupkan roda ekonomi kota Kebumen.

Kebumen, Dee, 03052021

Dewi Suspaningrum
Dewi Suspaningrum
dewi@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment