Menikmati Pagi Merekah dari Lereng Gunung Salak

Penulis: Elvy Yusanti

googletest

Dua minggu lalu diundang sahabat suami berkunjung ke rumah kayunya di Bogor. Berangkat dari rumah, Depok Sabtu pukul 06:00 Wib, kami berencana kemping di lahan seluas 2700 meter yang terletak di Kampung Sukhoi, Desa Tajur Halang, Cijeruk.

Memasuki Desa Tajur Halang sekitar pukul 09:00 WIB, kami menempuh perjalanan dengan mobil pribadi sekitar 40 menit dari Stasiun Bogor. Udara sejuk mulai terasa saat tiba di hamparan tanah yang dihiasi pepohonan rindang.

Rumah Kayu milik pasangan Yustinus dan Sandra ini masih belum jadi. Tampak beberapa pekerja sibuk memasang atap dan memperbaiki pipa air yang langsung dialirkan dari Gunung Salak. Sambil ngaso dan menunggu makan siang, kami duduk sambil ngobrol di gubug sederhana, tak jauh dari rumah kayu.

“Tanah ini dibeli untuk istirahat, jauh dari keriuhan ibukota. Dan kami mempersiapkan untuk mengisi hari tua,” ungkap Yustinus.

Jalan menuju lokasi ini tidak terlalu jauh, tapi karena belum sempurna, bebatuan dan curam kami memilih naik mobil menuju atas yang memakan waktu sekitar 10 menit.

Menu makan siang kami Nasi, Sayur Asem, Ikan Teri, Lalap Labu, tak lupa sambal dan potongan tempe tahu. Menu yang cocok disantap di udara sejuk diselingi gurauan dan semilir angin.

Setelah cukup beristirahat, Shalat Zuhur, kamipun mendirikan tenda untuk tidur nanti malam. Sudah terbayang sensasi melepas lelah di alam terbuka, karena sudah lama tidak plesir karena pandemi. Oiya, meskipun kemping di kawasan sejuk dengan udara bersih, kami tetap menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker, sering mencuci tangan dan tetap jaga jarak.

Menunggu Sunrise

Sore hari berganti malam. Udara dingin makin menusuk, perlahan memasuki senja lalu matahari terbenam. Di lokasi kami berada, Azan Magrib sayup-sayup terdengar diiringi gerimis.

Hari menuju malam, dingin makin menusuk. Nasi dan ikan bakar yang dimasak bersama-sama menjadi santapan terakhir di Hari Sabtu. Sambil memandangi lampu-lampu berkelap-kelip dari rumah kayu, saya niatkan untuk bangun sebelum Subuh.

Alarm hanphone berbunyi tepat menunjukkan ke angka 04:30 WIB. Saya bergegas bangun, siap-siap Shalat Subuh. Sambil menunggu azan, saya menikmati pemandangan menawan dari teras rumah kayu. Alhamdulillah suara azan terdengar dari kejauhan.

Selepas shalat saya bersiap menunggu sunrise. Guratan langit dari gelap, lalu jingga, kemudian terlihat kabut, lalu matahari mulai menampakkan kecantikannya. Sungguh pagi yang indah.  Mengucap syukur karena masih diberikan kesehatan dan menikmati keindahan alam sambil menyeruput teh panas tanpa gula dengan background Gunung Gede.

Pagi itu saya melemaskan kaki sejenak dengan berjalan kaki di sekitar rumah kayu bersama Sandra dan Mas Ageng sambil ngobrol agak serius soal membangun karakter anak muda.

Hari menjelang siang, saatnya bersiap untuk pulang. Ini memang seperti rekreasi tipis-tipis. Menjauh sejenak dari rutinitas di rumah, WFH, dan kewajiban mengerjakan tugas-tugas. Meski hanya menginap semalam tapi otak jadi fresh. Menikmati udara bersih, bercengkerama dengan sahabat, dan bertemu dengan teman-teman baru.

Bagaimana menurut Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Tags:
Elvy Yusanti
Elvy Yusanti
elvy@kenariguesthouse.com
No Comments

Post A Comment